√Asosiatif Dan Disosiatif

Diposting pada

Pengertian Asosiatif

Asosiatif adalah proses sosial yang mengarah pada bentuk kerja sama dan menciptakan kesatuan. Dalam praktek nya asosiatif sering di temukan di masyarakat dan pedesaan. Proses ini sangat bergantung kepada kerjasama dan penyesuaian diri suatu individu dengan lingkungan nya, sehingga tercipta proses sosial yang asosiatif. Asosiatif terwujud karena adanya persamaan dalam beberapa hal sehingga terjalin kerjasama yang baik.


Bentuk-bentuk Asosiatif

  • Kerja sama

Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama dilakukan sejak manusia berinter-aksi dengan sesamanya. Kebiasaan dan sikap mau bekerja sama dimulai sejak kanak-kanak, mulai dalam kehidupan keluarga lalu meningkat dalam kelompok sosial yang lebih luas. Kerja sama berawal dari kesamaan orientasi.


  • Akomodasi

Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri dari orang perorang atau kelompok-kelompok manusia yang semua saling bertentangan sebagai upaya untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Tujuan dari akomodasi adalah terciptanya keseimbangan interraksi sosial dalam kaitannya dengan norma dan nilai yang ada di dalam masyarakat. Ini dapat digunakan untuk menyelesaikan pertentangan, entah dengan menghargai kepribadian yang berkonflik atau dengan cara paksaan atau tekanan.


  • Asimilasi

Menurut Soerjono Soekanto, asimilasi merupakan proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap dan proses mental dengan memperhatikan tujuan dan kepentingan bersama. Artinya, apabila orang-orang melakukan asimilasi ke dalam suatu kelompok manusia atau masyarakat, maka tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok tersebut. Secara singkat proses asimilasi adalah peleburan dua kebudayaan menjadi satu kebudayaan. Tetapi hal ini tidak semudah yang dibayangkan karena banyak faktor yang memengaruhi suatu budaya itu dapat melebur menjadi satu kebudayaan.

Lihat Juga:   √Alur : Pengertian, Tahapan, Jenis, Unsur Dan Contohnya

  • Akulturasi

Menurut Koentjaranigrat, akulturasi diartikan sebagai suatu proses sosial yang timbul apabla suatu kelompok manusia yang memiliki kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing, dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun dapat diterima dan tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Proses akulturasi yang berlangsung dengan baik dapat menghasilkan integrasi unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Yang paling mudah menerima kebudayaan asing adalah generasi muda.


Coba kalian amati begitu mudahnya kalian menerima perkembangan model rambut penyanyi barat atau model pakaian artis luar negeri. Biasanya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima ialah unsur kebendaan, peralatan-peralatan yang sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat seperti komputer, handphone, mobil, dan lain-lain. Sedangkan unsur kebudayaan asing yang sulit diterima adalah unsur kebudayaan yang menyangkut ideologi, keyakinan atau nilai tertentu yang menyangkut prinsip hidup. Seperti, komunisme, kapitalisme, liberalisme, dan lain-lain.


Faktor-faktor Pendorong Terjadinya Asosiatif

Berikut merupakan beberapa faktor pendorong terjadinya asosiatif di sebuah masyarkat :

  1. Kesamaan asal (daerah) atau bahasa
  2. Kesamaan agama
  3. Hubungan keluarga
  4. Hubungan kerja Kesamaan idiologi (diwujudkan dalam sebuah organisasi)
  5. Kesamaan kepentingan
  6. Kesamaan tempat tinggal/domisili
  7. Faktor sosial (sebagai makluk sosial, seseorang tidak mungkin dapat hidup sendiri)
  8. Faktor ekonomi (seseorang membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhanya)
  9. Faktor pendidikan

Pengertian Disosiatif

Proses disosiatif disebut pula proses oposisi. Oposisi dapat diartikan cara yang bertentangan dengan seseorang ataupun kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Disosiatif dapat juga diartikan sebagai lawan kata dari asosiatif. Karena memiliki tujuan yang berbeda atau bertentangan dengan asosiatif.


Bentuk-Bentuk Disosiatif

 Proses disosiatif dapat dibedakan menjadi tiga bentuk sebagi berikut:

Persaingan (Competition)

Persaingan merupakan suatu proses ketika ada dua pihak atau lebih saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Persaingan terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya terbatas atau menjadi pusat perhatian umum.

Lihat Juga:   √Contoh Norma Hukum : Pengertian, Jenis, Ciri, Tujuan, dan Contohnya

Persaingan dilakukandengan norma dan nilai yang diakui bersama dan berlaku pada masyarakat tersebut. Persaingan yang disertai dengan kekerasan, ancaman, atau keinginan untuk merugikan pihak lain dinamakan persaingan tidak sehat. Persaingan memiliki berbagai fungsi berikut ini;

  • Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang sama-sama menuntut dipenuhi, padahal sulit dipenuhi semunya secara serentak.
  • Menyalurkan kepentingan serta nilai-nilai dalam masyarakat terutama kepentingan dan nilai yang menimbulkan konflik.
  • Menyeleksi individu yang pantas memperoleh kedudukan serta peran sesuai dengan kemampuannya.

Kontravensi

Kontravensi merupakan proses sosial yang ditandai oleh adanya ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka. Kontravensi adalah sikap menentang secara tersembunyi, agar tidak sampai terjadi perselisihan atau konflik secara terbuka. Bentuk kontravensi;

  • Kontravensi umum,
  • Kontravensi sederhana,
  • Kontravensi intensif,
  • Kontravensi rahasia,
  • Kontravensi taktis.

Pertikaian

Pertikaian merupakan proses social bentuk lanjut dari kontravensi. Dalam pertikaian perselisihan sudah mulai terbuka. Pertikaian terjadi karena semakin tajamnya perbedaan antara kalangan tertentu dalam masyarakat. Pertikaian muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain lewat ancaman atau kekerasan.


  1. Konflik

Konflik merupakan suatu proses sosial antara dua pihak atau lebih ketika pihak yang satu berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuat tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan yang agaknya sulit untuk didamaikan atau ditemukan kesamaannya. Perbedaan tersebut meliputi: cirri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, dan keyakinan.


Konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat, karena tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik. Baik konflik dalam cakupan kecil maupun besar. Faktor-faktor yang menyebabkan konflik dalam masyarakat:

  • Perbedaan individu
  • Perbedaan latar belakang kebudayaan
  • Perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok
  • Perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

Lihat Juga:   √Contoh Bank Umum : Pengertian, Sejarah, Fungsi dan Tujuannya

Konflik bisa membawa akibat positif asalkan masalah yang dipertentangkan dan kalangan yang bertentangan memang kontruktif. Konflik merupakan proses diaosiatif yang tajam. Meskipun begitu, sebagai salah satu proses social, konflik dapat berfungsi positif bagi masyarakat. Hasil dan akibat suatu konflik sebagai berikut:

  • Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik dengan kelompok lain,
  • Keretakan hubungan pada individu antara anggota kelompok,
  • Perubahan kepribadian individu,
  • Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia,

Dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.


Demikianlah artikel dari pengajar.co.id, semoga artikel ini dapat bermanfaat.