√Unsur Cerpen

Diposting pada

Pengertian Cerpen

Unsur Cerpen : Jenis, Pengertian, Kaidah Kebahasaan Cerpen, Kepanjangan cerpen adalah cerita pendek. Cerpen adalah suatu cerita naratif fiktif yang dikarang oleh sseorang. Cerpen bisa terinspirasi dari kisah nyata, atau bahkan hanya bayangan pengarang atau fiksi. Atau mungkin hanya alur imajinasi dari pengarangnya.


Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.


Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur.


Unsur – unsur cerpen

Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik cerpen adalah unsur yang membangun cerpen dari dalam cerpen itu sendiri. Unsur intrinsik meliputi:

  1. Tokoh dan karakter tokoh

Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan atau karakter menunjukkan pada sifat dan sikap para tokoh  yang menggambarkan kualitas pribadi seseorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca.


Secara umum, kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis.


Ada 3 tokoh yaitu:

  • Tokoh protagonis (atau disebut juga sebagai tokoh utama). Tokoh protagonis merupakan tokoh yang biasanya berperilaku baik.
  • Tokoh antagonis (tokoh yang menentang tokoh utama). Tokoh antagonis merupakan tokoh yang biasanya berperilaku jahat.
  • Tokoh tritagonis (tokoh yang mendukung tokoh utama). Tokoh tritagonis merupakan tokoh yang biasanya membantu tokoh protagonis dan biasanya berperilaku baik.

  1. Latar (setting)

Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret(nyata) dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Latar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana.

Lihat Juga:   √ Kompensasi Adalah : Pengertian, Jenis, Bentuk, Tujuan dan Faktornya

  1. Alur (plot)

Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasanya disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagian-bagian cerita


  1. Sudut pandang (point of view)

Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan kepada siapakah yang menceritakan kisah tersebut. Ada beberapa macam sudut pandang, diantaranya sudut pandang orang pertama (gaya bahasa dengan sudut pandang  “aku”), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran.


  1. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi (pilihan kata), penggunaan majas, dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapkan seorang pengarang terhadap karyanya.


  1. Tema

Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan.


  1. Amanat

Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan masalah atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.


 Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangun cerita sebuah karya. Unsur ekstrinsik karya sastra, antara lain:

  • Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup.
  • Psikologis pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan panorama prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.
  • Keadaan di lingkungan pengarang, seperti ekonomi, politik dan sastra sosial.
  • Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.

Setelah seluk beluk cerpen kita pelajari, selanjutnya kita dapat menentukan tema cerita. Tema cerita tersebut dapat diperoleh dari hasil pengoleksian dan pengumpulan data tentang berbagai pengalaman yang pernah kita alami. Dari tema tersebut dapat dijabarkan ke dalam beberapa pokok pikiran. Pokok-pokok pikiran tersebut kita susun menjadi sebuah kerangka karangan. Kerangka karangan tersebut selanjutnya kita kembangkan menjadi sebuah karangan yang utuh menggunakan bahasa yang baik dan benar.


Kaidah Kebahasaan Cerpen

Cerpen juga karakteristiknya dapat dikenal dari bahasa yang digunakan di dalamnya, ciri bahasa dari cerpen adalah sebagai berikut:

  1. Memuat kata sifat yang mendeskripsikan pelaku seperti penampilan fisik juga kepribadian tokoh yang diceritakan dalam cerpen, seperti misalnya sosoknya tinggi atau perawakannya gagah, rambutnya beruban dan sifat tokoh lainnya.
  2. Memuat kata keterangan untuk mendeskripsikan latar waktu tempat dan suasana, sebagai contoh misalnya: di pagi hari yang cerah, di kebun bambu yang rimbun dengan dedaunan dan lain sebagainya.

  3. Menggunakan kalimat langsung dan juga tidak langsung untuk penulisan dalam percakapan di dalam cerpen
  4. Bisa menggunakan gaya bahasa yang bersifat konotasi seperti misalnya : pucuk langit, memanggang bus, bajing loncat dan mulut terminal.
  5. Bahasa yang digunakan  tidak baku dan tidak formal.
  6. Bisa menggunakan gaya bahasa Perbandingan, pertentangan, pertautan maupun perulangan.

Lihat Juga:   √ Struktur Kloroplas : Pengertian dan Fungsi

Jenis-Jenis Cerpen

Berdasarkan Jumlah Katanya

Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni:

  1. Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
  2. Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
  3. Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah.

Berdasarkan Tekhnik Mengarangnya

  1. Cerpen sempurna (well made short-story), cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca awam bisa membacanya dalam tempo kurang dari satu jam.

  2. Cerpen tak utuh (slice of life short-story), cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya) tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang orisinal, sehingga lajim disebut sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau cerpen berat.

Ciri-ciri Cerita Pendek

Di atas penulis kemukakan bahwa masih banyak orang belum mengetahui ciri-ciri sebuah cerita pendek. Mengenai hal tersebut, di bawah ini penulis kemukakan ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997 : 36) ceritanya pendek bersifat rekaan (fiction) ,bersifat naratif dan memiliki kesan tunggal.


Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis dalam Tarigan (1985 : 177) sebagai berikut :

  • Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
  • Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
  • Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.

Lihat Juga:   √Fungsi Xilem dan Floem : Pengertian, Perbedaan dan Letaknya

Karakteristik Cerpen

Rumusan (definisi) sebuah jenis sastra sangat sulit dilakukan. Dalam perkembangan sastra dewasa ini, ciri-ciri khasnya semakin kabur sehingga rumit untuk mencari garis-garis pemisah antara satu dengan yang lainnya. Kerumitan itu antara lain karena (Atar, 1988: 33) makin banyak macam kesusastraan, ciri-ciri khas sastra selalu berubah-ubah dan tidak identik dengan segala masa dan segala tempat,batas antara sastra dan bukan sastra tidak mutlak, danidentifikasi sastra bisa bermacam-macam menurut pendekatan dan titik pandangan.


Sungguhpun demikian, tidak berarti bahwa kita tidak mungkin mengemukakan rumusan cerita pendek (disingkat cerpen; Inggris: short story). Menurut Satyagraha Hoerip (dalam Atar, 1988: 34), cerpen adalah karakter yang dijabarkan lewat rentetan kejadian yang kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu.


Panjang pendek ukuran cerpen tidak menjadi hal yang mutlak, tidak ditentukan bahwa cerpen harus sekian halaman atau sekian kata. Ada cerpen yang sangat pendek (short short story) berkisar 500-an kata, ada cerpen yang panjangnya sedang (midle short story), serta ada cerpen yang panjang (long short story) yang terdiri dari puluhan ribu kata. (Nurgiyantoro, 2007: 10)


Cerita pendek dicirikan dengan beberapa hal antara lain, secara fisik pendek, adanya sifat rekaan (fiction), dan adanya sifat naratif atau penceritaan. Bentuk fisik cerpen yang pendek bukan dengan kualifikasi halaman tertentu, tetapi mengarah kepada pemadatan isi. Sifat rekaan mengandaikan adanya suatu peristiwa, apakah benar-benar terjadi atau hanya rekaan yang dijadikan dasar penulisan cerita, sedangkan sifat naratif mengharuskan cerpen tampil secara utuh sebagai sebuah cerita namun singkat.


Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, dan mencakup jangka waktu yang singkat. Karena bentuknya yang pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detail-detail khusus yang “kurang penting”. Dengan begitu cerpen menyuguhkan cerita yang diciptakan, dipadatkan, digayakan, dan diperkokoh oleh kemampuan imajinasi pengarangnya.


Salah satu karakteristik cerpen adalah cerpen mampu mengemukakan lebih banyak –secara inplisit –dari sekedar apa yang diceritakan.Komunikasi yang dibangun oleh suatu cerpen masih abstrak. Artinya, apa yang ingin disampaikan oleh pengarang belum tentu sama dengan yang dipahami oleh pembaca. Sebagai sebuah karya fiksi cerpen terbangun atas unsur-unsur yaitu: tema, plot, penokohan, latar, sudut pandang dan lain-lain.


Demikianlah artikel dari pengajar.co.id, semoga artikel ini dapat bermanfaat.