Pendiri Daihatsu, nama Daihatsu telah lama dikenal sebagai salah satu produsen kendaraan kompak terbesar dari Jepang. Di Indonesia, merek tersebut lekat dengan mobil keluarga, kendaraan niaga ringan, serta model berukuran kecil yang ditawarkan dengan harga relatif terjangkau. Namun, perjalanan Daihatsu sebenarnya tidak dimulai dari pembuatan mobil.
Cikal bakal Daihatsu didirikan pada 1907 dengan nama Hatsudoki Seizo Co., Ltd. Perusahaan itu dibentuk di Osaka untuk mengembangkan dan memproduksi mesin pembakaran dalam secara mandiri. Jepang ketika itu masih sangat bergantung pada mesin impor, sementara kebutuhan industri terhadap sumber tenaga terus meningkat.
Daihatsu juga tidak lahir dari seorang pendiri tunggal. Pembentukannya melibatkan kalangan akademisi teknik dan pengusaha yang mempunyai tujuan serupa. Tokoh yang paling sering disebut adalah Yoshiaki Yasunaga dan Seishiro Tsurumi. Mereka bekerja bersama Saneyasu Oka, Masashi Kuwabara, Zenjiro Takeuchi, serta sejumlah pihak lain yang mendukung pendirian perusahaan.
Yoshiaki Yasunaga Menjadi Penggagas Utama
Yoshiaki Yasunaga merupakan salah satu tokoh terpenting dalam pendirian perusahaan yang kemudian berkembang menjadi Daihatsu. Ia menjabat sebagai kepala Governmental Osaka Higher Technical School, lembaga pendidikan teknik yang kini memiliki hubungan sejarah dengan Fakultas Teknik Universitas Osaka.
Kedudukannya sebagai akademisi memberi Yasunaga pemahaman mengenai kebutuhan industri Jepang terhadap teknologi mesin. Pada awal abad ke 20, mesin pembakaran dalam telah digunakan untuk mendukung kegiatan produksi dan transportasi di sejumlah negara. Jepang masih harus mendatangkan banyak mesin serta komponen dari luar negeri.
Ketergantungan tersebut menjadi persoalan bagi negara yang sedang mempercepat industrialisasi. Pembelian mesin dari luar membutuhkan biaya tinggi dan membuat perkembangan industri bergantung pada kemampuan pemasok asing. Yasunaga melihat bahwa Jepang memerlukan kemampuan untuk merancang, membangun, dan merawat mesin sendiri.
Ia kemudian mengajak akademisi, insinyur, dan pengusaha untuk mendirikan perusahaan yang berfokus pada produksi mesin dalam negeri. Gagasan tersebut melahirkan Hatsudoki Seizo pada 1 Maret 1907 di Osaka. Istilah Hatsudoki Seizo secara umum merujuk pada kegiatan pembuatan mesin.
Menurut penulis, peran Yoshiaki Yasunaga memperlihatkan bahwa Daihatsu lahir dari kebutuhan industri dan pendidikan teknik, bukan semata keinginan membangun merek kendaraan.
Seishiro Tsurumi Membawa Keahlian Teknik Mesin
Seishiro Tsurumi menjadi tokoh akademik lain yang ikut merintis Hatsudoki Seizo. Ia memimpin bidang ilmu mekanika di Osaka Higher Technical School. Keahliannya sangat dibutuhkan karena perusahaan baru tersebut harus membangun mesin tanpa dukungan rancangan lengkap dari produsen asing.
Pada masa itu, memperoleh produk mesin impor mungkin masih memungkinkan, tetapi dokumen rancangan dan pengetahuan pembuatannya tidak tersedia secara bebas. Para insinyur Jepang harus mempelajari prinsip kerja mesin melalui pengamatan, pengukuran, percobaan bahan, dan pengujian berulang.
Tsurumi bersama tim teknik berperan dalam menyusun dasar pengetahuan yang dibutuhkan untuk produksi. Mereka harus memahami ruang bakar, sistem pemasukan udara, mekanisme katup, pelumasan, pendinginan, dan pemindahan tenaga. Setiap komponen perlu dibuat menggunakan kemampuan manufaktur yang tersedia di Jepang.
Keterlibatan Tsurumi juga memperkuat hubungan antara perusahaan dan dunia pendidikan. Hatsudoki Seizo tidak hanya menjadi badan usaha, tetapi juga tempat penerapan ilmu teknik. Para akademisi dapat mengubah penelitian menjadi mesin yang benar benar digunakan oleh industri.
Hubungan historis tersebut masih dikenang oleh Universitas Osaka dan Daihatsu. Yasunaga serta Tsurumi dipandang sebagai dua tokoh pendidikan yang ikut memberikan dasar bagi salah satu perusahaan otomotif tertua di Jepang.
Tiga Pengusaha Mendukung Pendirian Hatsudoki Seizo
Yoshiaki Yasunaga dan Seishiro Tsurumi tidak bekerja sendiri. Pendirian perusahaan juga melibatkan Saneyasu Oka, Masashi Kuwabara, dan Zenjiro Takeuchi. Ketiganya berasal dari lingkungan bisnis yang membantu menghubungkan gagasan teknik dengan kebutuhan pembiayaan serta pengelolaan perusahaan.
Perusahaan yang memproduksi mesin membutuhkan modal dalam jumlah besar. Pabrik harus memiliki peralatan pengecoran, pembentukan logam, permesinan, perakitan, serta pengujian. Bahan baku juga harus tersedia secara berkelanjutan agar produksi dapat dilakukan dengan mutu yang seragam.
Peran pengusaha diperlukan untuk menyusun organisasi, memperoleh modal, mengatur pemasok, dan mencari pengguna. Tanpa kemampuan komersial, hasil penelitian hanya akan bertahan sebagai benda percobaan. Sebuah mesin baru perlu diproduksi, dijual, dipasang, dan dirawat agar dapat memberikan manfaat bagi industri.
Saneyasu Oka, Masashi Kuwabara, dan Zenjiro Takeuchi tercatat sebagai bagian dari kelompok pendiri. Kerja sama mereka dengan para akademisi menjadi salah satu ciri penting kelahiran Daihatsu. Perusahaan dibentuk melalui pertemuan antara pengetahuan teknik dan kemampuan pengelolaan usaha.
Mesin Gas Enam Tenaga Kuda Menjadi Produk Pertama
Pada Desember 1907, Hatsudoki Seizo menyelesaikan mesin gas hisap berkekuatan enam tenaga kuda. Perusahaan menyebutnya sebagai mesin jenis tersebut yang pertama diproduksi di dalam negeri Jepang. Keberhasilan itu dicapai pada tahun yang sama dengan pendirian perusahaan.
Mesin gas hisap bekerja dengan menghasilkan gas bahan bakar dari proses tertentu sebelum digunakan di dalam ruang pembakaran. Teknologi ini banyak dimanfaatkan sebagai sumber tenaga tetap bagi pabrik dan berbagai kegiatan produksi. Mesin belum dirancang untuk menggerakkan mobil sebagaimana mesin Daihatsu pada periode berikutnya.
Pembuatan mesin tersebut menjadi pembuktian bahwa tenaga ahli Jepang mampu mengembangkan peralatan industri tanpa sepenuhnya bergantung pada produk impor. Keberhasilan awal juga meningkatkan keyakinan pemodal dan calon pengguna terhadap kemampuan perusahaan.
Para insinyur harus membuat berbagai komponen dengan tingkat ketelitian tinggi. Kesalahan ukuran kecil dapat mengganggu tekanan, pembakaran, dan gerakan mekanis. Proses pengujian diperlukan untuk memastikan mesin mampu bekerja dalam waktu lama tanpa mengalami kerusakan.
Produksi mesin gas menjadi dasar keterampilan Daihatsu dalam memahami pembakaran, material, pendinginan, dan ketahanan. Kemampuan inilah yang kemudian digunakan ketika perusahaan mulai mengembangkan mesin bensin dan kendaraan.
Daihatsu Tidak Langsung Memproduksi Mobil
Selama lebih dari dua dekade setelah pendiriannya, Hatsudoki Seizo berfokus pada mesin untuk kebutuhan industri. Perusahaan juga terlibat dalam pengembangan mesin diesel dan peralatan yang berhubungan dengan transportasi kereta. Kendaraan bermotor belum menjadi produk utamanya.
Perubahan mulai terlihat ketika kebutuhan kendaraan roda tiga meningkat pada akhir dekade 1920. Pabrik, pedagang, dan perusahaan distribusi memerlukan kendaraan kecil yang mampu membawa barang melewati jalan perkotaan. Kendaraan roda tiga dianggap lebih murah serta lebih mudah dioperasikan dibandingkan truk berukuran besar.
Banyak mesin untuk kendaraan roda tiga masih berasal dari luar Jepang. Kondisi tersebut mengingatkan perusahaan pada persoalan yang menjadi alasan awal pendiriannya. Hatsudoki Seizo kemudian mengembangkan mesin bensin berpendingin udara dengan empat langkah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Mesin berkapasitas 500 cc berhasil diselesaikan pada 1930. Produk itu memperoleh penilaian baik dalam sebuah pameran industri yang diadakan oleh pemerintah Jepang. Kemampuannya dinilai mampu bersaing dengan mesin buatan luar negeri.
Namun, kepercayaan terhadap produk impor masih kuat. Produsen kendaraan roda tiga belum langsung tertarik menggunakan mesin buatan Hatsudoki Seizo. Perusahaan akhirnya memutuskan membuat kendaraan sendiri agar kemampuan mesinnya dapat diperlihatkan secara langsung.
Model HA Membuka Perjalanan Daihatsu sebagai Produsen Kendaraan
Pada Desember 1930, Hatsudoki Seizo mulai memasarkan kendaraan roda tiga Model HA. Kendaraan tersebut menggunakan mesin bensin yang dikembangkan sendiri. Model HA tercatat sebagai kendaraan pertama dalam sejarah perusahaan.
Bentuknya memadukan satu roda di depan dengan dua roda di belakang. Bagian belakang digunakan untuk membawa muatan, sedangkan pengendara duduk di depan. Susunan seperti itu sesuai dengan kebutuhan pengiriman barang dalam jarak dekat.
Pada 1931, perusahaan memperkenalkan Model HB Tsubasa sebagai pengembangan berikutnya. Model tersebut menjadi salah satu produk konsumen awal yang menandai perubahan arah Hatsudoki Seizo. Perusahaan tidak lagi hanya memasok mesin, tetapi mulai merancang serta membangun kendaraan secara utuh.
Keputusan tersebut memperluas kemampuan perusahaan. Pembuatan kendaraan menuntut pengetahuan mengenai rangka, kemudi, rem, suspensi, transmisi, bodi, dan pembagian beban. Perusahaan juga harus membangun jaringan penjualan serta layanan setelah pembelian.
Produksi kendaraan roda tiga terus meningkat. Pada 1937, Hatsudoki Seizo dilaporkan memproduksi lebih dari 5.000 kendaraan roda tiga. Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa kendaraan kecil telah menjadi bagian utama kegiatan perusahaan.
Sebutan Daihatsu Berasal dari Kebiasaan Pelanggan
Nama Daihatsu ternyata telah digunakan sebelum perusahaan secara resmi mengadopsinya. Istilah tersebut muncul sebagai singkatan yang diberikan pelanggan kepada produsen mesin asal Osaka. Nama itu menggabungkan unsur tempat perusahaan berdiri dan bidang kegiatan awalnya.
Karakter kanji pertama dari Osaka dapat dibaca sebagai dai. Sementara itu, hatsu berasal dari bagian awal kata hatsudoki yang berarti mesin. Gabungan keduanya menghasilkan sebutan Daihatsu.
Perusahaan mulai menggunakan nama Daihatsu pada produknya ketika memasuki pasar kendaraan roda tiga pada 1930. Mesin diesel yang diluncurkan pada periode tersebut juga memakai sebutan Daihatsu. Nama yang awalnya muncul dari kebiasaan pelanggan akhirnya berkembang menjadi identitas komersial.
Proses tersebut berbeda dari perusahaan yang memilih nama berdasarkan pendiri atau keluarga pemilik. Daihatsu tidak mengambil nama Yasunaga, Tsurumi, atau pengusaha yang mendukung pendiriannya. Nama perusahaan justru menunjukkan hubungan dengan Osaka dan produksi mesin.
Penulis menilai asal nama Daihatsu memperlihatkan kuatnya hubungan perusahaan dengan kota kelahirannya serta kemampuan teknik yang dibangun sejak 1907.
Kendaraan Roda Empat Mulai Dikembangkan
Setelah berhasil memproduksi kendaraan roda tiga, Hatsudoki Seizo mulai memasuki pengembangan kendaraan roda empat. Pada April 1937, perusahaan memasarkan Model FA, sebuah kendaraan kecil beroda empat.
Langkah tersebut memperlihatkan peningkatan kemampuan teknik. Kendaraan roda empat membutuhkan rancangan kemudi, penempatan mesin, sistem pemindah tenaga, serta struktur rangka yang lebih kompleks. Perusahaan juga harus menyesuaikan kendaraan dengan kondisi jalan dan kebutuhan pengguna.
Perang Dunia Kedua kemudian mengubah kegiatan industri Jepang. Banyak perusahaan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan negara, sementara pasokan bahan dan fasilitas produksi berada dalam tekanan. Setelah perang berakhir, industri harus dibangun kembali di tengah kerusakan ekonomi serta keterbatasan sumber daya.
Hatsudoki Seizo tetap melanjutkan pengembangan kendaraan kecil. Ukuran kompak sesuai dengan keadaan Jepang setelah perang karena masyarakat memerlukan sarana angkut yang hemat bahan, mudah dirawat, dan dapat digunakan pada jalan sempit.
Perubahan Nama Resmi Terjadi pada 1951
Pada Desember 1951, Hatsudoki Seizo resmi mengubah namanya menjadi Daihatsu Motor Co., Ltd. Perubahan itu menegaskan peralihan perusahaan dari produsen mesin industri menjadi produsen kendaraan bermotor.
Perubahan nama tidak berarti Daihatsu baru didirikan pada 1951. Akar perusahaannya tetap dihitung sejak pendirian Hatsudoki Seizo pada 1907. Tahun 1951 menjadi tahap pengesahan nama Daihatsu sebagai identitas perusahaan.
Pada Oktober 1951, perusahaan juga mulai memasarkan Daihatsu Bee, sebuah kendaraan penumpang roda tiga. Bee memiliki bentuk yang lebih menyerupai mobil penumpang dibandingkan kendaraan niaga roda tiga sebelumnya. Model ini memperlihatkan upaya Daihatsu memasuki kebutuhan perjalanan pribadi.
Perusahaan kemudian meluncurkan Midget pada 1957. Kendaraan niaga roda tiga berukuran kecil tersebut menjadi salah satu produk paling terkenal dalam sejarah Daihatsu. Ukurannya sesuai bagi pedagang dan pengusaha kecil yang membutuhkan alat angkut dengan biaya kepemilikan rendah.
Midget Memperkuat Keahlian pada Kendaraan Ringkas
Daihatsu Midget membantu membentuk identitas perusahaan sebagai ahli kendaraan kecil. Model tersebut memiliki ukuran mungil, konstruksi sederhana, dan kemampuan membawa barang. Karakter itu membuatnya sesuai dengan kebutuhan perdagangan di kota kota Jepang.
Keberhasilan Midget menunjukkan bahwa kendaraan kecil bukan sekadar alternatif murah. Dimensi ringkas dapat memberikan keunggulan pada jalan sempit, kawasan padat, serta usaha yang tidak membutuhkan truk besar. Daihatsu kemudian mempertahankan prinsip tersebut pada berbagai produk berikutnya.
Pada 1960, perusahaan mulai memasarkan Hijet sebagai kendaraan niaga ringan. Hijet berkembang menjadi salah satu nama yang bertahan lama dalam jajaran Daihatsu. Model tersebut tersedia dalam berbagai bentuk untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan barang maupun penumpang.
Pada 1963, Daihatsu memperkenalkan Compagno Van. Perusahaan kemudian menawarkan Berlina 800 pada 1964 dan Compagno Spider pada 1965. Rangkaian ini memperlihatkan kemampuan Daihatsu mengembangkan mobil penumpang, kendaraan niaga, dan mobil sport kecil.
Kerja Sama dengan Toyota Dimulai pada 1967
Daihatsu memulai hubungan bisnis dengan Toyota Motor Corporation pada 1967. Kerja sama tersebut menjadi tahap penting bagi pengembangan produk, produksi, dan distribusi. Daihatsu tetap mempertahankan keahliannya dalam kendaraan kecil, sementara Toyota memiliki sumber daya serta jaringan yang lebih besar.
Hubungan keduanya berkembang selama beberapa dekade. Toyota secara bertahap meningkatkan kepemilikan saham di Daihatsu. Pada 2016, Daihatsu menjadi anak perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki Toyota.
Status tersebut tidak menghapus sejarah Daihatsu sebagai perusahaan yang lebih dahulu berdiri. Daihatsu didirikan pada 1907, sedangkan Toyota Motor Corporation lahir beberapa dekade setelahnya. Keduanya mempunyai asal, pendiri, dan perjalanan awal yang berbeda.
Dalam kelompok Toyota, Daihatsu mendapat peran kuat pada pengembangan mobil kompak. Pengalaman panjang dalam membangun kendaraan kecil digunakan untuk menciptakan model yang hemat ruang, terjangkau, serta sesuai dengan kebutuhan berbagai negara.
Jejak Daihatsu Tumbuh Kuat di Indonesia
Kehadiran Daihatsu di Indonesia berkembang melalui kerja sama dengan Astra. Produksi kendaraan dilakukan oleh PT Astra Daihatsu Motor, yang memiliki fasilitas manufaktur serta kegiatan pengembangan produk untuk pasar Indonesia.
Sejumlah model Daihatsu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Zebra pernah dikenal sebagai kendaraan niaga dan keluarga. Espass kemudian meneruskan posisinya dengan kabin luas. Taruna, Xenia, Terios, Gran Max, Ayla, Sigra, dan Rocky memperluas pilihan di berbagai kelas.
Daihatsu Xenia menjadi salah satu contoh hubungan pengembangan antara Daihatsu dan Toyota. Kendaraan tersebut mempunyai saudara dekat yang dipasarkan sebagai Toyota Avanza. Pola serupa dapat ditemukan pada Terios dengan Rush serta Ayla dengan Agya.
Indonesia bukan hanya berperan sebagai pasar penjualan. Fasilitas produksi di dalam negeri memasok kendaraan untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Tenaga kerja, pemasok komponen, teknisi, dan kegiatan penelitian lokal ikut membentuk perjalanan Daihatsu di kawasan Asia Tenggara.
Warisan Para Pendiri Terlihat pada Fokus Mobil Kecil
Yoshiaki Yasunaga, Seishiro Tsurumi, Saneyasu Oka, Masashi Kuwabara, dan Zenjiro Takeuchi memulai perusahaan dengan tujuan memproduksi mesin secara mandiri. Mereka tidak mendirikan perusahaan yang sejak awal langsung membuat mobil penumpang.
Keputusan mengembangkan mesin sendiri membentuk budaya keahlian teknik. Perusahaan belajar menguasai pembakaran, material, perakitan, serta efisiensi jauh sebelum memasuki produksi kendaraan. Pengetahuan itu menjadi dasar saat Hatsudoki Seizo membuat Model HA.
Perhatian terhadap kebutuhan industri juga terus terlihat dalam pilihan produk Daihatsu. Kendaraan dibuat berdasarkan persoalan pengguna, seperti keterbatasan ruang, kebutuhan angkut, biaya pembelian, dan penggunaan bahan bakar.
Pendiri Daihatsu berasal dari dua kelompok yang saling melengkapi. Akademisi membawa kemampuan penelitian serta pendidikan teknik. Para pengusaha menyediakan pengelolaan, modal, dan hubungan industri. Kerja sama tersebut memungkinkan hasil penelitian berubah menjadi produk yang dapat digunakan secara luas.






