Suku Sasak: Sejarah, Budaya, dan Kearifan Lokal dari Tanah Lombok yang Menakjubkan Suku Sasak: Sejarah, Budaya, dan Kearifan Lokal dari Tanah Lombok yang Menakjubkan Ketika mendengar kata Lombok, banyak orang mungkin langsung teringat pada keindahan pantainya yang menawan atau Gunung Rinjani yang menjulang megah. Namun, di balik keelokan alam itu, ada sebuah suku yang menjadi jiwa dan identitas pulau tersebut — Suku Sasak. Suku ini bukan sekadar penduduk asli Lombok, melainkan pewaris peradaban yang sarat nilai, sejarah panjang, dan filosofi hidup yang unik.
“Suku Sasak bukan hanya penghuni Lombok, tetapi penjaga napas budaya yang menautkan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu aliran kehidupan.”
Sejarah Suku Sasak
Sejarah suku Sasak telah tertulis jauh sebelum terbentuknya Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kata Sasak sendiri dipercaya berasal dari istilah kuno “sak-sak” yang berarti “pergi berjalan lurus,” menggambarkan perjalanan leluhur mereka dari wilayah pesisir menuju dataran tengah Lombok. Namun versi lain menyebut bahwa istilah ini berasal dari bahasa Jawa Kuno “Sasak Mirah,” yang berarti perahu berlayar menuju permata, sebuah metafora yang menggambarkan perjalanan spiritual dan sosial masyarakatnya.
Jejak sejarah suku Sasak menunjukkan bahwa mereka telah mendiami Pulau Lombok sejak zaman prasejarah, diperkirakan berasal dari keturunan Austronesia yang bermigrasi dari Asia Tenggara. Dalam perjalanan waktu, suku ini mengalami asimilasi dengan berbagai kebudayaan, termasuk Bali, Jawa, hingga pengaruh Islam dari Makassar dan Melayu.
Pada abad ke-16, Lombok sempat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Bali Karangasem. Meski pengaruh budaya Bali begitu kuat, suku Sasak tetap mempertahankan identitas mereka dengan menjadikan Islam sebagai fondasi utama kehidupan sosial dan spiritual. Perpaduan antara adat kuno dan ajaran Islam inilah yang melahirkan karakter unik masyarakat Sasak hingga kini.
Keunikan Budaya dan Tradisi Suku Sasak
Suku Sasak dikenal memiliki sistem sosial dan budaya yang sangat khas, yang membedakan mereka dari suku-suku lain di Nusantara. Budaya ini tercermin dalam adat istiadat, kesenian, arsitektur, dan cara hidup sehari-hari masyarakatnya.
Adat Perkawinan yang Penuh Makna
Salah satu tradisi paling terkenal dari suku Sasak adalah Merariq atau kawin lari. Dalam adat ini, sang pria “menculik” calon mempelai perempuan sebagai simbol bahwa ia siap bertanggung jawab atas kehidupan bersama. Meskipun disebut kawin lari, proses ini dilakukan dengan persetujuan keluarga dan mengikuti aturan adat yang ketat.
Setelah proses Merariq, akan diadakan Selabar, yaitu pertemuan resmi antara keluarga mempelai pria dan wanita untuk membicarakan mahar, hari pernikahan, dan prosesi adat lainnya. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi mencerminkan nilai kesopanan, keberanian, dan penghormatan terhadap kehendak kedua belah pihak.
“Dalam adat Merariq, cinta tidak hanya soal hati, tapi juga tentang tanggung jawab dan keberanian menempuh jalan adat yang penuh makna.”
Bahasa dan Komunikasi
Bahasa yang digunakan suku Sasak dikenal dengan nama Bahasa Sasak, yang memiliki berbagai dialek tergantung wilayah, seperti dialek Bayan, Pejanggik, Selaparang, dan Pujut. Bahasa ini berakar dari Bahasa Melayu Kuno dan Jawa Kuno, mencerminkan sejarah panjang interaksi lintas budaya.
Uniknya, dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Sasak sangat menjunjung etika berbahasa. Mereka mengenal tingkatan bahasa seperti halus, menengah, dan kasar, yang disesuaikan dengan lawan bicara, mirip dengan sistem bahasa Jawa.
Rumah Adat Suku Sasak
Arsitektur rumah tradisional suku Sasak juga menjadi bukti keindahan kearifan lokal. Rumah adat mereka disebut Bale Tani atau Bale Lumbung. Struktur rumah dibangun dari bahan alami seperti bambu, kayu, dan alang-alang. Atap rumah berbentuk limas dengan kemiringan tajam yang melambangkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Lantai rumah sering kali terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran sapi — bukan tanpa alasan, karena campuran ini membuat lantai tahan terhadap suhu panas dan dingin. Selain itu, dalam filosofi mereka, lantai tanah mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan dengan bumi sebagai sumber kehidupan.
“Rumah bagi orang Sasak bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang harmoni antara alam dan manusia.”
Sistem Kepercayaan dan Agama
Mayoritas masyarakat Sasak memeluk agama Islam. Namun, Islam yang dianut memiliki kekhasan tersendiri yang disebut Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima.
Islam Wetu Telu
Wetu Telu adalah bentuk kepercayaan yang menggabungkan unsur Islam, animisme, dan kepercayaan lokal. Kata Wetu Telu berarti “tiga waktu,” yang mengacu pada praktik ibadah salat tiga kali sehari. Penganut kepercayaan ini masih banyak ditemui di wilayah Bayan, Lombok Utara, dan mereka tetap menjalankan ritual tradisional seperti upacara pertanian dan penghormatan terhadap leluhur.
Islam Waktu Lima
Sebagian besar masyarakat Sasak saat ini menganut Islam Waktu Lima, yaitu ajaran Islam yang lebih ortodoks dengan salat lima waktu dan mengikuti ajaran Islam sebagaimana yang dikenal secara umum. Meski demikian, hubungan antara kedua kelompok ini harmonis, menunjukkan toleransi dan keberagaman keyakinan dalam satu akar budaya yang sama.
“Keberagaman keyakinan dalam masyarakat Sasak adalah bukti bahwa spiritualitas tak selalu harus seragam, tapi bisa hidup berdampingan dalam damai.”
Pakaian Tradisional Suku Sasak
Pakaian tradisional suku Sasak tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga sarat makna simbolik. Untuk pria, busana tradisional biasanya terdiri dari sapuq (ikat kepala), baju lengan panjang hitam, dodot (kain sarung yang dililit di pinggang), serta keris yang diselipkan di bagian belakang sebagai simbol keberanian dan kehormatan.
Sementara bagi wanita, pakaian adatnya dikenal dengan nama Lambung — baju tanpa lengan yang dipadukan dengan kain tenun Songket Pringgasela yang dibuat secara manual oleh para penenun perempuan Lombok.
Songket menjadi kebanggaan tersendiri karena setiap motifnya menggambarkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Sasak, seperti kesetiaan, kesuburan, dan kekuatan perempuan.
“Setiap helai tenunan songket bukan hanya benang dan warna, tetapi doa dan cerita yang dirajut dengan ketekunan hati.”
Seni dan Kesenian Tradisional
Kesenian suku Sasak mencerminkan kekayaan spiritual dan sosial yang diwariskan turun-temurun.
Gendang Beleq
Salah satu kesenian paling terkenal adalah Gendang Beleq — pertunjukan musik tradisional dengan alat drum besar yang dimainkan oleh belasan orang pria. Gendang Beleq dulunya digunakan untuk menyambut prajurit yang kembali dari medan perang, kini menjadi simbol penyambutan tamu dan pesta adat.
Peresean
Seni Peresean merupakan bentuk pertarungan tradisional antara dua pria yang menggunakan rotan (penjalin) sebagai senjata dan perisai dari kulit sapi. Meski tampak keras, peresean bukan tentang kekerasan, melainkan melatih keberanian dan sportivitas. Setelah pertarungan selesai, para peserta saling berjabat tangan sebagai tanda perdamaian.
“Dalam setiap pukulan peresean, ada pelajaran tentang keberanian dan penghormatan, bukan kemarahan.”
Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Kehidupan masyarakat Sasak umumnya berpusat pada pertanian. Mereka menanam padi, jagung, dan sayuran di lahan subur yang dialiri oleh sistem irigasi tradisional yang disebut pengairan subak Sasak. Selain bertani, mereka juga terkenal sebagai pengrajin tenun, pembuat gerabah, dan peternak sapi serta ayam kampung.
Di daerah pesisir seperti Sekotong dan Ampenan, sebagian masyarakat Sasak menjadi nelayan. Hasil laut seperti ikan, cumi, dan rumput laut menjadi sumber ekonomi penting yang mendukung kesejahteraan komunitas.
Peran perempuan Sasak juga tidak kalah penting. Mereka tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga aktif dalam kegiatan ekonomi kreatif, seperti menenun, berjualan di pasar tradisional, hingga menjadi pemandu wisata budaya di desa-desa adat seperti Sade dan Ende.
“Perempuan Sasak adalah tiang yang menyangga budaya. Dari tangan mereka lahir kain, dari tutur mereka lahir nilai.”
Desa Adat Sade dan Warisan Hidup Suku Sasak
Desa Adat Sade di Lombok Tengah adalah contoh nyata bagaimana suku Sasak menjaga warisan leluhur mereka. Di sini, rumah-rumah tradisional masih berdiri kokoh, masyarakat tetap menjalankan adat Merariq, dan para penenun perempuan duduk di teras rumah menghasilkan karya songket.
Desa ini bukan sekadar objek wisata, tetapi ruang hidup yang mengajarkan dunia tentang arti mempertahankan budaya di tengah arus modernisasi.
“Sade bukan hanya desa adat, tapi cermin kesetiaan suku Sasak terhadap akar budayanya.”
