Hipotermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh turun hingga berada di bawah batas normal dan tubuh tidak lagi mampu menghasilkan panas yang cukup untuk mempertahankan fungsi organ. Keadaan ini dapat terjadi setelah seseorang berada terlalu lama di lingkungan dingin, terkena hujan, terendam air, mengenakan pakaian basah, atau mengalami paparan angin yang membuat panas tubuh hilang lebih cepat.
Pada orang dewasa, hipotermia umumnya mulai dipertimbangkan ketika suhu inti tubuh berada di bawah 35 derajat Celsius. Kondisinya dapat berkembang secara perlahan sehingga penderita tidak selalu menyadari bahwa kemampuan tubuhnya mulai menurun.
Menggigil biasanya menjadi tanda awal. Ketika suhu terus turun, seseorang dapat mengalami kebingungan, bicara tidak jelas, koordinasi gerakan memburuk, kantuk berat, hingga kehilangan kesadaran.
Penanganan harus dilakukan dengan hati hati karena hipotermia berat dapat mengganggu kerja jantung, pernapasan, dan otak.
Pindahkan Korban dari Lingkungan Dingin Sesegera Mungkin
Langkah pertama dalam penanganan hipotermia adalah menghentikan paparan terhadap suhu dingin.
Korban perlu dipindahkan menuju tempat yang lebih hangat dan terlindung dari angin, hujan, salju, atau permukaan dingin.
Apabila korban berada di pegunungan atau lokasi terbuka, pilih tempat perlindungan yang dapat mengurangi paparan angin. Tenda, kendaraan, bangunan, pos pendakian, atau lokasi lain yang lebih tertutup dapat digunakan sementara sambil menunggu bantuan.
Tubuh juga perlu dijauhkan dari tanah karena permukaan dingin dapat terus menyerap panas.
Alas seperti matras, selimut, jaket, tas, atau bahan kering dapat ditempatkan di bawah tubuh.
Jika korban baru keluar dari air, usahakan memindahkannya dengan gerakan terkontrol. Pada hipotermia berat, tubuh harus diperlakukan dengan lembut karena jantung dapat menjadi lebih sensitif terhadap gangguan irama.
Pakaian Basah Harus Segera Diganti dengan Bahan Kering
Pakaian basah mempercepat hilangnya panas tubuh.
Air menghantarkan panas jauh lebih cepat dibandingkan udara sehingga seseorang yang tetap mengenakan pakaian basah dapat mengalami penurunan suhu walaupun sudah keluar dari lingkungan dingin.
Jika memungkinkan, pakaian basah dilepas dan diganti dengan pakaian kering.
Proses tersebut sebaiknya dilakukan di tempat terlindung agar tubuh tidak semakin terpapar angin.
Apabila pakaian sulit dilepas karena kondisi korban, pakaian dapat dipotong daripada menarik anggota tubuh secara berlebihan.
Setelah itu, korban dibungkus menggunakan beberapa lapisan bahan kering.
Selimut, jaket, sleeping bag, atau kain tebal dapat digunakan untuk membantu mempertahankan panas.
Bagian kepala dan leher juga perlu dilindungi karena panas tubuh dapat hilang melalui permukaan yang terbuka.
“Menurut penulis, kesalahan yang sering terjadi adalah hanya memikirkan cara menghangatkan tubuh tanpa menghentikan sumber kehilangan panas terlebih dahulu.”
Hangatkan Bagian Tengah Tubuh Terlebih Dahulu
Pada hipotermia, pemanasan sebaiknya difokuskan terlebih dahulu pada bagian tengah tubuh.
Area dada, leher, punggung, ketiak, serta pangkal paha merupakan bagian yang dapat dibantu untuk meningkatkan suhu secara bertahap.
Botol berisi air hangat dapat digunakan jika tersedia.
Namun, botol tidak boleh terlalu panas dan sebaiknya dibungkus menggunakan kain agar tidak langsung menyentuh kulit.
Kompres hangat juga dapat ditempatkan pada dada atau area tubuh utama.
Hindari memanaskan tangan dan kaki secara agresif terlebih dahulu, terutama pada korban dengan hipotermia sedang atau berat.
Pemanasan ekstrem pada anggota tubuh dapat menyebabkan pembuluh darah melebar dengan cepat. Darah yang sangat dingin dari tangan dan kaki kemudian dapat kembali menuju pusat tubuh dan membuat suhu inti menurun.
Karena itu, proses pemanasan perlu dilakukan secara bertahap dan terkontrol.
Jangan Menggunakan Air yang Terlalu Panas
Memandikan korban hipotermia dengan air sangat panas bukan langkah pertolongan pertama yang dianjurkan.
Perubahan suhu yang terlalu cepat dapat membuat pembuluh darah melebar secara mendadak.
Kondisi tersebut dapat menurunkan tekanan darah dan mengganggu kestabilan sistem peredaran darah.
Air panas juga dapat menyebabkan luka bakar karena kulit yang sangat dingin mempunyai kemampuan lebih rendah untuk merasakan suhu secara normal.
Korban mungkin tidak menyadari bahwa air yang digunakan terlalu panas.
Jika sumber panas digunakan, suhunya harus nyaman dan tidak menimbulkan rasa terbakar pada kulit orang sehat.
Pemanasan bertahap lebih aman dibandingkan mencoba menaikkan suhu tubuh secepat mungkin menggunakan panas ekstrem.
Jangan Menggosok Tangan dan Kaki Korban
Menggosok tubuh sering dilakukan secara spontan ketika seseorang terlihat kedinginan.
Pada hipotermia, tindakan tersebut tidak selalu aman.
Pijatan keras atau menggosok tangan dan kaki dapat merusak jaringan yang sangat dingin, terlebih jika terdapat kemungkinan radang dingin atau frostbite.
Gerakan kasar juga sebaiknya dihindari pada hipotermia berat.
Korban yang menunjukkan penurunan kesadaran, denyut nadi sangat lambat, atau pernapasan yang lemah harus dipindahkan dengan hati hati.
Jantung pada suhu tubuh sangat rendah dapat lebih mudah mengalami gangguan irama.
Karena itu, penanganan yang tenang dan terkendali lebih penting daripada melakukan banyak gerakan sekaligus.
Minuman Hangat Bisa Diberikan pada Kondisi Tertentu
Korban hipotermia ringan yang masih sadar penuh, mampu menelan dengan baik, dan tidak mengalami muntah dapat diberikan minuman hangat.
Minuman manis dapat membantu karena tubuh membutuhkan energi untuk menghasilkan panas.
Air hangat, teh hangat tanpa alkohol, atau minuman lain yang tidak terlalu panas dapat digunakan.
Namun, minuman tidak boleh diberikan kepada korban yang kesadarannya menurun, sangat mengantuk, mengalami kebingungan berat, muntah, atau sulit menelan.
Risiko tersedak dan masuknya cairan ke saluran pernapasan menjadi lebih tinggi pada kondisi tersebut.
Makanan ringan dengan kandungan energi juga dapat diberikan apabila korban benar benar sadar dan mampu makan.
Alkohol Harus Dihindari
Ada anggapan bahwa alkohol dapat membuat tubuh lebih hangat.
Sensasi hangat tersebut sebenarnya dapat menipu.
Alkohol menyebabkan pembuluh darah di kulit melebar sehingga darah hangat dari pusat tubuh bergerak lebih banyak menuju permukaan.
Kulit mungkin terasa lebih hangat, tetapi kehilangan panas dari tubuh justru dapat meningkat.
Alkohol juga dapat mengganggu kemampuan seseorang menilai keadaan serta mengurangi koordinasi.
Pada seseorang yang sudah mengalami hipotermia, kondisi itu dapat memperburuk situasi.
Karena itu, minuman beralkohol tidak digunakan sebagai cara menghangatkan korban hipotermia.
Kenali Hipotermia Ringan dari Tanda Awalnya
Hipotermia ringan biasanya ditandai dengan menggigil yang cukup kuat.
Tubuh menggunakan menggigil sebagai mekanisme untuk menghasilkan panas melalui aktivitas otot.
Korban mungkin masih sadar dan dapat berbicara.
Namun, mulai muncul kesulitan melakukan pekerjaan sederhana.
Jari terasa kaku, koordinasi menurun, dan seseorang dapat mengalami kesulitan berjalan dengan stabil.
Tanda lain yang dapat muncul meliputi:
- Kulit terasa dingin
- Menggigil terus menerus
- Bibir terlihat pucat
- Gerakan tangan mulai kaku
- Kesulitan melakukan tugas sederhana
- Bicara mulai melambat
- Rasa lelah meningkat
- Kesulitan berkonsentrasi
Pada tahap ini, menghentikan paparan dingin dan melakukan pemanasan dengan cepat dapat mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Berhentinya Menggigil Tidak Selalu Berarti Korban Membaik
Salah satu tanda yang sering disalahartikan adalah berhentinya menggigil.
Ketika seseorang sebelumnya menggigil hebat kemudian tiba tiba berhenti padahal tubuh masih sangat dingin, kondisi tersebut dapat menjadi tanda hipotermia yang semakin berat.
Tubuh mungkin sudah kehilangan cukup banyak energi dan tidak lagi mampu menghasilkan panas melalui kontraksi otot.
Pada tahap tersebut, korban dapat mulai mengalami kebingungan berat.
Ucapan menjadi tidak jelas.
Gerakan semakin lambat dan rasa kantuk dapat meningkat.
Sebagian orang juga menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan keadaan, seperti merasa tidak perlu perlindungan tambahan meskipun berada dalam lingkungan sangat dingin.
Perubahan seperti ini memerlukan perhatian segera.
Hipotermia Berat Merupakan Keadaan Darurat
Hipotermia berat dapat menyebabkan penurunan kesadaran, pernapasan sangat lambat, denyut nadi melemah, hingga kehilangan respons.
Kondisi ini membutuhkan penanganan medis darurat.
Bantuan layanan medis harus segera diminta apabila korban menunjukkan:
- Kehilangan kesadaran
- Kesulitan bernapas
- Pernapasan sangat lambat
- Denyut nadi sangat lemah
- Kebingungan berat
- Tidak mampu berdiri
- Menggigil berhenti meski tubuh masih sangat dingin
- Kulit sangat pucat atau kebiruan
Korban sebaiknya tidak dibiarkan sendirian.
Selama menunggu bantuan, pertahankan perlindungan dari lingkungan dingin dan lakukan pemanasan secara bertahap pada bagian tengah tubuh.
Pemeriksaan Napas Perlu Dilakukan dengan Teliti
Pada hipotermia berat, fungsi tubuh dapat melambat sangat jauh.
Pernapasan bisa menjadi sangat pelan dan sulit terlihat.
Denyut nadi juga dapat terasa sangat lemah.
Karena itu, pemeriksaan tidak boleh dilakukan terburu buru.
Amati gerakan dada dan periksa tanda pernapasan dengan teliti.
Jika korban tidak bernapas normal dan tidak menunjukkan tanda kehidupan, resusitasi jantung paru perlu dimulai sesuai panduan pertolongan pertama apabila penolong mampu melakukannya.
Segera hubungi layanan kegawatdaruratan setempat.
Pada korban hipotermia, upaya resusitasi dapat membutuhkan waktu lebih panjang karena suhu rendah memperlambat fungsi tubuh.
Penentuan kondisi korban sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis.
CPR Diperlukan Bila Korban Tidak Bernapas Normal
Jika seseorang tidak sadar dan tidak bernapas normal, CPR dapat menjadi langkah penyelamatan yang sangat penting.
Penolong yang sudah terlatih dapat melakukan kompresi dada sesuai pedoman resusitasi.
Jika tersedia automated external defibrillator atau AED, perangkat tersebut dapat digunakan mengikuti instruksinya.
Dalam situasi hipotermia berat, gangguan irama jantung dapat terjadi.
Penggunaan AED membantu menganalisis irama jantung dan menentukan apakah kejutan listrik diperlukan.
Penolong sebaiknya terus menjalankan pertolongan sesuai instruksi layanan kegawatdaruratan sampai tim medis tiba atau korban menunjukkan tanda kehidupan.
Hipotermia Akibat Terendam Air Bisa Terjadi Sangat Cepat
Air dingin menghilangkan panas tubuh jauh lebih cepat dibandingkan udara dingin.
Karena itu, seseorang yang jatuh ke sungai, danau, laut, atau kolam dengan suhu rendah dapat mengalami hipotermia dalam waktu relatif singkat.
Setelah korban berhasil dikeluarkan dari air, pakaian basah perlu dilepas dan diganti dengan bahan kering.
Tubuh kemudian dibungkus.
Perhatian khusus harus diberikan pada kondisi pernapasan karena korban tenggelam juga dapat mengalami masuknya air ke saluran napas.
Korban yang mengalami gangguan pernapasan, batuk berat, kehilangan kesadaran, atau baru saja hampir tenggelam tetap perlu diperiksa secara medis meskipun terlihat membaik setelah dihangatkan.
Pendaki Gunung Menjadi Kelompok yang Rentan
Hipotermia sering dikaitkan dengan pendakian karena suhu gunung dapat berubah dengan cepat.
Hujan, angin kuat, kelelahan, pakaian basah, dan kurangnya asupan makanan dapat mempercepat hilangnya panas.
Seseorang bahkan dapat mengalami hipotermia pada suhu lingkungan yang tidak terlalu rendah apabila tubuhnya basah dan terus terpapar angin.
Pendaki perlu memperhatikan perubahan perilaku anggota kelompok.
Orang yang biasanya aktif kemudian menjadi diam, berjalan tidak stabil, atau mulai menjawab pertanyaan dengan tidak tepat perlu diperiksa.
Dalam kondisi tersebut, memaksakan perjalanan menuju puncak bukan pilihan yang aman.
Prioritasnya adalah memindahkan korban ke lokasi terlindung, mengganti pakaian, memberikan lapisan hangat, dan mengatur evakuasi jika kondisinya tidak membaik.
“Hipotermia di gunung sering menjadi berbahaya karena tanda awalnya dapat dianggap sebagai kelelahan biasa, padahal kemampuan berpikir korban sudah mulai menurun.”
Bayi dan Lansia Memerlukan Perhatian Lebih
Bayi memiliki kemampuan mengatur suhu tubuh yang belum sebaik orang dewasa.
Mereka juga mempunyai luas permukaan tubuh yang relatif besar dibandingkan berat badan sehingga panas dapat hilang lebih cepat.
Tanda hipotermia pada bayi tidak selalu berupa menggigil kuat.
Kulit dapat terasa sangat dingin, bayi menjadi lemas, kurang aktif, atau kesulitan menyusu.
Lansia juga memiliki risiko lebih besar.
Kemampuan tubuh menghasilkan dan mempertahankan panas dapat menurun seiring bertambahnya usia.
Beberapa penyakit kronis dan obat tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur suhu.
Rumah yang terlalu dingin dapat menjadi sumber hipotermia pada lansia meskipun mereka tidak berada di luar ruangan.
Kondisi Medis Tertentu Bisa Meningkatkan Risiko
Tidak semua hipotermia terjadi karena seseorang berada di gunung atau terendam air.
Kondisi medis tertentu dapat mengganggu kemampuan tubuh mempertahankan suhu.
Gangguan tiroid, kadar gula darah sangat rendah, infeksi berat, cedera, gangguan saraf, serta beberapa penyakit lain dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami penurunan suhu tubuh.
Obat tertentu juga dapat memengaruhi kesadaran atau kemampuan tubuh bereaksi terhadap dingin.
Seseorang yang ditemukan dengan suhu tubuh rendah tanpa riwayat paparan dingin yang jelas tetap membutuhkan pemeriksaan medis.
Dokter perlu mencari penyebab yang mendasarinya.
Tenaga Medis Bisa Menggunakan Pemanasan Aktif
Di rumah sakit, penanganan hipotermia disesuaikan dengan tingkat keparahan.
Korban hipotermia ringan mungkin cukup mendapatkan pemanasan eksternal, pemantauan, dan cairan sesuai kebutuhan.
Pada kondisi lebih berat, dokter dapat menggunakan pemanasan aktif.
Cairan infus yang telah dihangatkan dapat diberikan.
Oksigen hangat dan lembap juga dapat digunakan dalam keadaan tertentu.
Pada hipotermia sangat berat, metode pemanasan internal yang lebih maju dapat diperlukan.
Fasilitas tertentu memiliki sistem yang memungkinkan darah dialirkan keluar tubuh untuk dihangatkan kemudian dikembalikan ke sirkulasi.
Teknik semacam ini digunakan pada pasien terpilih dengan kondisi sangat berat dan harus dilakukan oleh tim medis berpengalaman.
Suhu Tubuh Perlu Naik Secara Bertahap
Pemanasan bukan sekadar membuat pasien merasa nyaman.
Tujuannya adalah menaikkan suhu inti tubuh secara aman sambil mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan.
Tenaga medis akan memantau suhu, tekanan darah, kadar oksigen, irama jantung, dan kondisi kesadaran.
Peningkatan suhu yang terjadi secara bertahap membantu tubuh kembali menuju fungsi normal.
Pasien hipotermia berat juga dapat mengalami gangguan elektrolit, perubahan kadar gula darah, dan masalah pembekuan darah.
Karena itu, pemeriksaan laboratorium dapat diperlukan.
Keadaan tersebut menjelaskan mengapa hipotermia berat tidak dapat ditangani hanya dengan memberikan selimut.
Pencegahan Dimulai dari Pakaian dan Persiapan
Pencegahan menjadi bagian penting terutama bagi orang yang melakukan aktivitas di lingkungan dingin.
Pakaian berlapis membantu mempertahankan udara hangat di sekitar tubuh.
Lapisan luar sebaiknya mampu melindungi dari angin dan air.
Pakaian basah perlu segera diganti.
Topi, sarung tangan, kaus kaki, dan pelindung leher juga membantu menjaga suhu.
Untuk aktivitas gunung, perlengkapan darurat seperti selimut termal, pakaian cadangan, makanan berenergi tinggi, dan sumber penerangan layak dibawa.
Pengecekan cuaca sebelum perjalanan juga penting.
Perjalanan sebaiknya dihentikan apabila kondisi berubah menjadi terlalu berisiko.
Setelah Suhu Membaik Korban Tetap Perlu Dipantau
Seseorang yang tampak lebih hangat belum tentu sudah sepenuhnya pulih.
Kondisi kesadaran, pernapasan, kemampuan berjalan, serta suhu tubuh perlu terus diamati.
Korban yang sebelumnya mengalami kebingungan, kehilangan kesadaran, pernapasan lambat, terendam air dingin, atau suhu tubuh turun sangat rendah perlu mendapat evaluasi medis.
Pemantauan penting karena gangguan irama jantung dan masalah lain dapat tetap muncul selama proses pemanasan.
Jangan membiarkan korban langsung kembali melakukan aktivitas berat.
Tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan suhu, sirkulasi, energi, dan koordinasi.
Jika terdapat nyeri dada, sulit bernapas, kebingungan yang menetap, kelemahan berat, atau penurunan kesadaran setelah pemanasan dilakukan, pertolongan medis darurat tetap menjadi prioritas.
