Gejala Influenza yang Perlu Dikenali Sejak Demam Mendadak Muncul

Edukasi10 Views

Influenza kerap dianggap sama dengan pilek biasa karena keduanya dapat menimbulkan batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan tubuh yang terasa tidak nyaman. Anggapan tersebut membuat sebagian orang terlambat mengenali influenza, terutama ketika keluhan awalnya terlihat ringan. Padahal, influenza merupakan penyakit pernapasan menular akibat virus influenza yang menyerang hidung, tenggorokan, dan dalam keadaan tertentu dapat mencapai paru paru.

Gejala influenza mempunyai tingkat keparahan yang beragam. Seseorang dapat mengalami keluhan ringan dan pulih dengan perawatan di rumah, sedangkan orang lain dapat mengalami gangguan berat yang membutuhkan pertolongan medis. Risiko penyakit berat lebih tinggi pada anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit tertentu atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Ciri yang paling sering membedakan influenza dari pilek biasa adalah kemunculan keluhan yang cepat. Penderita dapat merasa sehat pada pagi hari, lalu beberapa jam kemudian mengalami demam, menggigil, sakit kepala, batuk, dan nyeri di seluruh tubuh. Perubahan kondisi yang mendadak tersebut perlu diperhatikan agar penderita dapat mengurangi aktivitas, beristirahat, dan menghindari penularan kepada orang lain.

Influenza Bukan Sekadar Istilah untuk Pilek Berat

Penggunaan kata flu dalam percakapan sehari hari sering kali terlalu luas. Hidung berair, bersin, masuk angin, gangguan pencernaan, hingga badan yang terasa kurang sehat terkadang langsung disebut flu. Secara medis, influenza merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini berbeda dari gangguan pencernaan yang kadang disebut flu perut, sebab flu perut umumnya berkaitan dengan infeksi pada saluran pencernaan.

Virus influenza terdiri dari beberapa jenis. Influenza A dan B merupakan jenis yang paling sering berkaitan dengan kejadian influenza musiman pada manusia. Meski jenis virusnya berbeda, keluhan yang muncul dapat terlihat serupa sehingga penentuan jenisnya tidak cukup hanya berdasarkan kondisi fisik penderita. Pemeriksaan medis dapat diperlukan, terutama ketika hasilnya akan memengaruhi keputusan pengobatan.

Setelah seseorang terpapar virus, keluhan biasanya tidak langsung muncul. Masa antara masuknya virus dan timbulnya gejala rata rata berlangsung sekitar dua hari, tetapi dapat berkisar antara satu sampai empat hari. Pada masa tersebut, seseorang mungkin sudah membawa virus meskipun belum menyadari bahwa dirinya sedang terinfeksi.

Gejala Influenza Umumnya Muncul Secara Mendadak

Pola kemunculan gejala menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengenali influenza. Pilek biasa umumnya berkembang perlahan selama dua atau tiga hari, sedangkan influenza sering menyerang dengan cepat. Demam, rasa dingin, tubuh lemah, sakit kepala, dan nyeri otot dapat muncul hampir bersamaan.

Tidak semua penderita akan mengalami seluruh gejala. Ada orang yang mengalami demam tinggi dan nyeri hebat, tetapi ada pula yang hanya mengalami batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, atau hidung tersumbat. Ketiadaan demam juga tidak selalu menyingkirkan kemungkinan influenza, terutama pada lansia dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

“Kemunculan keluhan yang cepat patut menjadi perhatian. Ketika demam, nyeri badan, sakit kepala, dan batuk datang hampir bersamaan, influenza tidak seharusnya diperlakukan seperti pilek ringan.”

Demam dan Menggigil Sering Menjadi Keluhan Awal

Demam menjadi salah satu gejala influenza yang paling dikenal. Suhu tubuh dapat meningkat dalam waktu singkat dan disertai menggigil, berkeringat, atau rasa dingin meskipun udara di sekitar tidak terlalu rendah. Demam dapat membuat penderita kehilangan tenaga, sulit tidur, dan memilih untuk tetap berada di tempat tidur.

Namun, tidak semua orang yang terkena influenza akan mengalami demam. CDC menegaskan bahwa infeksi influenza dapat menimbulkan gejala pernapasan tanpa kenaikan suhu tubuh. Hal ini lebih sering menjadi perhatian pada lansia, orang yang lemah, dan pasien dengan gangguan kekebalan tubuh karena respons tubuh mereka terhadap infeksi mungkin tidak terlihat seperti pada orang dewasa sehat.

Demam yang sangat tinggi atau tidak mereda perlu diawasi, terutama pada bayi dan anak. Bayi berusia kurang dari 12 minggu yang mengalami demam perlu segera dinilai oleh tenaga kesehatan. Pada anak yang lebih besar, demam sangat tinggi yang tidak terkendali dengan obat penurun panas juga termasuk tanda yang membutuhkan pertolongan medis.

Batuk Kering Dapat Bertahan Lebih Lama

Batuk akibat influenza umumnya terasa kering pada tahap awal. Penderita dapat mengalami rasa gatal atau tidak nyaman pada tenggorokan, kemudian batuk menjadi lebih sering ketika saluran pernapasan mengalami iritasi. Batuk dapat mengganggu tidur, menimbulkan nyeri pada otot dada, serta membuat penderita semakin kelelahan.

Walaupun demam dan rasa sakit di tubuh dapat membaik dalam beberapa hari, batuk tidak selalu berhenti pada waktu yang sama. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut batuk dapat terasa berat dan bertahan selama dua minggu atau lebih. Keluhan yang berlangsung lama perlu diperiksa apabila disertai sesak napas, nyeri dada, demam yang kembali muncul, atau kondisi yang makin memburuk.

Batuk juga menjadi salah satu jalan utama penyebaran virus. Percikan pernapasan yang keluar ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara dapat mencapai mulut atau hidung orang yang berada di dekatnya. Karena itu, penderita perlu menutup batuk dan bersin, mencuci tangan, serta membatasi kontak dekat selama masih sakit.

Sakit Tenggorokan dan Hidung Tersumbat

Sakit tenggorokan dapat muncul bersamaan dengan batuk atau mendahuluinya. Tenggorokan terasa kering, perih ketika menelan, dan tidak nyaman saat berbicara. Pada sebagian penderita, keluhan tersebut disertai suara serak, rasa panas, atau keinginan untuk terus berdeham.

Hidung berair atau tersumbat juga termasuk gejala influenza, meskipun keluhan hidung sering lebih menonjol pada pilek biasa. Lendir dapat berwarna jernih pada awal penyakit. Perubahan warna lendir tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan apakah penyebabnya virus atau bakteri. Penilaian tetap perlu mempertimbangkan lamanya keluhan, suhu tubuh, kondisi pernapasan, dan pemeriksaan tenaga medis.

Kombinasi batuk, sakit tenggorokan, dan hidung tersumbat dapat menyerupai berbagai infeksi pernapasan lainnya. CDC menyatakan influenza sulit dibedakan dari penyakit virus atau bakteri lain hanya berdasarkan gejalanya. Tes tertentu dapat digunakan untuk membantu memastikan diagnosis apabila diperlukan.

Nyeri Otot Membuat Tubuh Terasa Berat

Nyeri otot merupakan keluhan yang cukup khas pada influenza. Rasa sakit dapat terasa di punggung, bahu, lengan, paha, pinggang, serta persendian. Sebagian penderita menggambarkannya sebagai tubuh yang terasa berat atau seperti baru melakukan aktivitas fisik berlebihan.

Nyeri tersebut dapat muncul bersamaan dengan menggigil dan demam. Penderita mungkin merasa tidak nyaman ketika berdiri, berjalan, atau mengubah posisi tidur. Pada anak, nyeri otot berat dapat terlihat dari keengganan untuk berjalan atau keluhan sakit pada kaki. Anak yang menolak berjalan karena nyeri hebat perlu mendapatkan pemeriksaan medis segera.

Rasa sakit pada tubuh umumnya berkurang ketika kondisi mulai membaik. Akan tetapi, nyeri dada tidak boleh langsung dianggap sebagai bagian dari nyeri otot biasa. Nyeri atau tekanan yang menetap di dada dapat menjadi tanda gangguan serius dan membutuhkan pertolongan medis.

Sakit Kepala dan Kelelahan yang Mengganggu Aktivitas

Sakit kepala akibat influenza dapat terasa di dahi, pelipis, belakang kepala, atau sekitar mata. Keluhan ini sering muncul bersama demam, kurang tidur, kehilangan cairan, dan hidung tersumbat. Cahaya terang atau suara keras terkadang membuat penderita merasa semakin tidak nyaman.

Kelelahan pada influenza biasanya lebih berat daripada rasa lelah setelah menjalani kegiatan sehari hari. Penderita dapat merasa tidak bertenaga meskipun telah tidur cukup. Aktivitas sederhana seperti mandi, menyiapkan makanan, atau berjalan ke ruangan lain dapat terasa lebih melelahkan dari biasanya.

Nafsu makan juga dapat berkurang. Kondisi ini perlu diperhatikan karena demam dan asupan cairan yang sedikit dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan. Penderita sebaiknya tetap minum secara berkala meskipun belum merasa lapar. Urine yang sangat sedikit atau tidak keluar selama beberapa jam dapat menunjukkan kekurangan cairan, terutama pada anak.

Gejala pada Anak Bisa Melibatkan Saluran Pencernaan

Anak yang terkena influenza dapat mengalami gejala pernapasan dan keluhan umum seperti orang dewasa. Demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, tubuh lemah, dan nyeri otot tetap menjadi gejala yang sering ditemukan. Namun, anak lebih mungkin mengalami mual, muntah, sakit perut, atau diare dibandingkan orang dewasa.

Anak yang belum mampu menjelaskan keluhannya mungkin hanya terlihat lebih rewel, mengantuk, kehilangan minat bermain, atau tidak mau makan dan minum. Sebagian anak juga mengalami sakit telinga, mata terasa sakit, atau pembengkakan kelenjar. Perubahan perilaku tersebut perlu dinilai bersama suhu tubuh, pola napas, jumlah urine, dan tingkat kesadaran anak.

Orang tua perlu memperhatikan tanda kekurangan cairan, seperti mulut kering, tidak mengeluarkan air mata ketika menangis, atau tidak buang air kecil selama sekitar delapan jam. Napas cepat, tarikan dinding dada setiap kali bernapas, bibir kebiruan, kejang, dan anak yang sulit dibangunkan termasuk keadaan darurat.

Lansia Bisa Menunjukkan Gejala yang Tidak Khas

Pada lansia, influenza tidak selalu ditandai dengan demam tinggi. Perubahan respons kekebalan tubuh dapat membuat gejalanya lebih samar. Penderita mungkin hanya tampak semakin lemah, kehilangan selera makan, kurang aktif, mengantuk, atau mengalami perubahan perilaku.

Perubahan kesadaran, kebingungan, atau penurunan kemampuan menjalani kegiatan sehari hari tidak boleh diabaikan. Gejala tersebut dapat menandakan infeksi berat, kekurangan oksigen, kekurangan cairan, atau gangguan lain yang memerlukan pemeriksaan. Keluarga juga perlu memperhatikan apakah penyakit jantung, asma, diabetes, atau gangguan paru yang telah dimiliki menjadi semakin sulit dikendalikan.

Risiko komplikasi influenza meningkat pada orang berusia 65 tahun ke atas. Risiko serupa juga dimiliki oleh penghuni fasilitas perawatan jangka panjang dan orang dengan gangguan kesehatan menahun. Kelompok tersebut dianjurkan menghubungi tenaga kesehatan lebih awal ketika gejala influenza mulai muncul.

Influenza dan Pilek Biasa Memiliki Pola Berbeda

Pilek biasa cenderung muncul bertahap. Keluhan dapat dimulai dengan tenggorokan tidak nyaman, bersin, hidung berair, lalu diikuti batuk ringan. Penderita biasanya masih mampu menjalani sebagian aktivitas, walaupun merasa kurang sehat.

Influenza lebih sering datang cepat dengan rasa sakit yang lebih kuat. Demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk kering, dan kelelahan berat dapat muncul dalam waktu berdekatan. Penderita sering merasa perlu beristirahat total selama beberapa hari.

Perbedaan tersebut hanya membantu sebagai petunjuk awal, bukan alat diagnosis mutlak. Influenza, pilek, COVID 19, dan infeksi pernapasan lain dapat menghasilkan keluhan serupa. Pemeriksaan dokter atau tes laboratorium dapat dibutuhkan apabila penderita memiliki risiko tinggi, gejalanya berat, atau hasil diagnosis akan menentukan pemberian obat.

Tanda Bahaya pada Orang Dewasa Tidak Boleh Ditunda

Sebagian besar orang sehat dapat pulih dari influenza tanpa perawatan rumah sakit. Meski demikian, penderita harus segera mencari pertolongan ketika mengalami kesulitan bernapas, napas pendek, nyeri atau tekanan menetap di dada dan perut, pusing terus menerus, kebingungan, kejang, atau sulit dibangunkan.

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah tidak buang air kecil, kelemahan otot berat, tubuh sangat tidak stabil, serta penyakit menahun yang memburuk. Demam atau batuk yang sempat mereda lalu kembali dengan keadaan lebih parah juga dapat menandakan komplikasi, termasuk infeksi pada paru.

Influenza dapat berkaitan dengan pneumonia, infeksi telinga, infeksi sinus, dan perburukan penyakit seperti asma, gagal jantung, atau diabetes. Gangguan tersebut tidak dapat dipastikan melalui pengamatan di rumah saja sehingga pemeriksaan langsung diperlukan ketika muncul tanda bahaya.

“Membaiknya demam bukan selalu tanda penyakit telah selesai. Batuk yang kembali memburuk, sesak napas, nyeri dada, atau kelemahan berat harus dipandang sebagai alasan untuk mencari pertolongan.”

Kelompok Berisiko Perlu Menghubungi Dokter Lebih Awal

Pertolongan medis tidak hanya ditentukan oleh beratnya keluhan. Bayi dan anak kecil, orang berusia 65 tahun ke atas, ibu hamil hingga dua minggu setelah persalinan, serta orang dengan asma, penyakit paru, penyakit jantung, diabetes, gangguan ginjal, gangguan hati, atau kekebalan tubuh lemah mempunyai risiko komplikasi lebih tinggi.

Orang dalam kelompok tersebut sebaiknya tidak menunggu hingga gejala menjadi berat. Obat antivirus influenza bekerja paling baik ketika diberikan sejak awal, idealnya dalam dua hari pertama setelah keluhan muncul. Obat tersebut memerlukan resep dan penggunaannya harus mengikuti penilaian dokter. Pemberian pada waktu yang lebih lambat masih dapat dipertimbangkan untuk pasien berisiko tinggi atau pasien dengan penyakit berat.

Antibiotik tidak dapat mengobati influenza karena antibiotik bekerja terhadap bakteri, bukan virus. Penggunaan antibiotik tanpa alasan medis tidak mempercepat pemulihan dan dapat menimbulkan efek samping serta meningkatkan masalah kekebalan bakteri terhadap obat. Antibiotik hanya digunakan apabila dokter menemukan atau mencurigai infeksi bakteri yang menyertai penyakit.

Perawatan di Rumah Tetap Memerlukan Pengawasan

Penderita dengan keluhan ringan umumnya dianjurkan beristirahat, tidur cukup, dan memenuhi kebutuhan cairan. Aktivitas berat sebaiknya dihentikan sementara agar tubuh tidak semakin kelelahan. Makanan dapat diberikan dalam porsi kecil sesuai kemampuan penderita, terutama ketika nafsu makan berkurang.

Obat penurun panas atau pereda nyeri dapat digunakan sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran tenaga kesehatan. Orang dengan penyakit tertentu, ibu hamil, anak, atau pengguna obat rutin perlu berkonsultasi sebelum memakai obat bebas. Anak dan remaja yang mengalami influenza tidak boleh diberikan aspirin tanpa arahan dokter karena terdapat risiko gangguan serius.

Selama sakit, penderita sebaiknya tetap berada di rumah dan mengurangi pertemuan dengan orang lain, kecuali untuk mendapatkan layanan kesehatan. Aktivitas normal dapat mulai dilakukan setelah keluhan secara umum membaik dan penderita tidak mengalami demam selama sedikitnya 24 jam tanpa menggunakan obat penurun panas. Kebiasaan menutup batuk, mencuci tangan, memperbaiki sirkulasi udara, dan tidak berbagi peralatan makan tetap diperlukan ketika batuk belum sepenuhnya hilang.