Polisi Sumenep Bekali 140 Siswa Hadapi Hoaks dan Manipulasi Konten AI

Edukasi18 Views

Polisi Sumenep Bekali 140 Siswa Hadapi Hoaks dan Manipulasi Konten AI Perkembangan kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Teknologi yang beberapa tahun lalu hanya banyak dibicarakan di lingkungan perusahaan teknologi kini dapat digunakan melalui telepon genggam untuk mencari informasi, membuat gambar, menyusun teks, menerjemahkan bahasa, hingga membantu memahami materi pelajaran. Kemudahan tersebut sekaligus memunculkan tantangan ketika hasil buatan AI digunakan untuk membuat informasi palsu yang terlihat meyakinkan.

Situasi itu menjadi perhatian Polresta Sumenep. Melalui Bagian Sumber Daya Manusia bersama Satbinmas dan Satlantas, kepolisian menggelar Sosialisasi Edukasi Paham Artificial Intelligence di MAN Sumenep, Kecamatan Kota Sumenep, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Sebanyak 140 siswa mengikuti kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan memahami AI secara cerdas, bijak, produktif, kritis, dan bertanggung jawab.

Catatan resmi satuan pendidikan menempatkan MAN Sumenep di Kelurahan Pangarangan, Kecamatan Kota Sumenep. Sekolah negeri tersebut memiliki sekitar 450 peserta didik berdasarkan pembaruan data pendidikan Juli 2026. Kehadiran 140 siswa dalam kegiatan polisi berarti cukup banyak pelajar mendapat kesempatan langsung membahas penggunaan teknologi yang sekarang semakin mudah dijangkau melalui berbagai aplikasi.

Polisi Tidak Hanya Membicarakan Cara Menggunakan AI

Sosialisasi yang digelar Polresta Sumenep tidak diarahkan sekadar untuk memperkenalkan aplikasi kecerdasan buatan. Petugas justru menekankan kemampuan memahami manfaat, risiko, dan batas penggunaannya.

Kapolresta Sumenep Kombes Pol Ariek Indra Sentanu melalui Kasi Humas Polresta Sumenep Ipda Ach. Putrawardana menyampaikan bahwa kemajuan teknologi perlu diikuti sikap kritis, etis, dan bertanggung jawab. Pelajar diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi memahami konsekuensi ketika teknologi digunakan tanpa pemeriksaan dan pertimbangan.

Pesan tersebut menjadi semakin penting karena AI generatif dapat menghasilkan materi dalam waktu sangat singkat. Sebuah pertanyaan dapat menghasilkan beberapa paragraf jawaban. Instruksi singkat dapat menghasilkan foto, suara, atau video yang terlihat realistis.

Kecepatan produksi informasi inilah yang membuat siswa membutuhkan kemampuan berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Mereka bukan hanya perlu mengetahui cara mencari informasi, tetapi juga harus menilai apakah informasi tersebut benar.

Hoaks Kini Bisa Dibuat Jauh Lebih Meyakinkan

Informasi palsu bukan persoalan baru di internet. Perbedaannya, teknologi AI dapat memperbesar kemampuan pembuat hoaks menghasilkan materi yang menyerupai informasi asli.

Kementerian Komunikasi dan Digital pada Juli 2026 mengingatkan bahwa konten sintetis dan deepfake semakin sulit dibedakan dari rekaman autentik. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria meminta masyarakat membiasakan diri memeriksa sumber serta asal materi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Deepfake dapat berupa video yang membuat seseorang seolah mengucapkan kalimat yang sebenarnya tidak pernah disampaikan. Teknologi serupa dapat meniru suara, wajah, dan gerakan.

Dalam bentuk yang lebih sederhana, AI juga dapat menghasilkan gambar sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah terjadi. Apabila gambar tersebut disertai keterangan yang meyakinkan lalu disebarkan melalui media sosial, pengguna yang tidak melakukan pemeriksaan dapat menganggapnya sebagai berita nyata.

Pelajar yang aktif menggunakan media sosial mempunyai kemungkinan besar bertemu dengan materi semacam ini.

“Menurut penulis, tantangan pelajar sekarang bukan kekurangan informasi. Persoalannya justru terlalu banyak informasi yang tampil sama meyakinkannya, padahal tingkat kebenarannya berbeda.”

Kemampuan Berpikir Kritis Menjadi Benteng Utama

Polresta Sumenep menempatkan sikap kritis sebagai salah satu bagian penting dalam penggunaan AI. Hal tersebut sejalan dengan peringatan pemerintah mengenai perubahan bentuk informasi palsu.

Komdigi pada Januari 2026 menegaskan kemampuan memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi menjadi keterampilan penting bagi anak di tengah meningkatnya konten buatan AI. Teknologi dapat membuat materi palsu terlihat semakin halus sehingga pemeriksaan tidak cukup hanya berdasarkan tampilan visual.

Siswa perlu membangun kebiasaan bertanya sebelum menerima sebuah informasi.

Siapa yang menerbitkan informasi tersebut? Apakah sumbernya dapat ditemukan? Apakah media resmi lain memberitakan hal yang sama? Apakah foto sesuai dengan lokasi dan waktu yang disebutkan?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengurangi kemungkinan seseorang langsung mempercayai materi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi.

Kemampuan kritis juga diperlukan ketika menggunakan layanan AI untuk mengerjakan tugas sekolah. Jawaban yang diberikan mesin dapat terlihat sangat yakin meskipun terdapat informasi yang keliru.

AI Tetap Boleh Digunakan untuk Membantu Belajar

Pesan kepolisian bukan meminta siswa menjauhi kecerdasan buatan.

Polresta Sumenep justru mendorong pelajar menggunakan AI sebagai sarana pendukung belajar, meningkatkan kreativitas, serta mengembangkan kemampuan diri secara positif.

Perbedaan utamanya terletak pada cara penggunaan.

AI dapat membantu menjelaskan materi yang sulit menggunakan bahasa lebih sederhana. Siswa dapat meminta contoh soal tambahan, mempelajari kosakata bahasa asing, mencari ide untuk proyek, atau mengembangkan pertanyaan sebelum berdiskusi dengan guru.

Namun, jawaban yang muncul tetap perlu diperiksa melalui buku pelajaran, sumber resmi, jurnal, atau keterangan guru.

Penggunaan AI yang sehat membuat teknologi bekerja sebagai alat bantu. Siswa tetap terlibat dalam proses berpikir, memahami, membandingkan, dan memperbaiki jawaban.

Menyalin Jawaban AI Tidak Sama dengan Belajar

Kemudahan menghasilkan teks menciptakan godaan untuk menyelesaikan tugas dalam hitungan detik.

Seorang siswa dapat memasukkan soal, mendapatkan jawaban, lalu menyalinnya tanpa benar benar memahami isi. Tugas mungkin selesai, tetapi proses belajar yang seharusnya berlangsung justru hilang.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan literasi AI perlu diajarkan bersama kemampuan akademik.

Penggunaan teknologi akan lebih berguna apabila siswa mengajukan pertanyaan lanjutan. Setelah memperoleh penjelasan, mereka dapat meminta contoh, mencoba menyelesaikan soal sendiri, lalu membandingkan jawabannya.

Guru juga dapat mengubah bentuk tugas agar tidak mudah diselesaikan hanya dengan menghasilkan teks. Presentasi, diskusi, penjelasan lisan, proyek kelompok, serta tugas yang meminta pengalaman pribadi dapat membantu melihat sejauh mana siswa memahami materi.

Teknologi kemudian menjadi bagian dari proses belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir.

Deepfake Bisa Dipakai dalam Penipuan

Risiko AI tidak hanya berhubungan dengan tugas sekolah dan berita palsu.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada Juni 2026 mengingatkan AI telah membuat penipuan digital semakin sulit dikenali. Suara seseorang dapat ditiru, begitu pula wajahnya, kemudian digunakan dalam video palsu.

Modus semacam ini dapat menyasar siapa saja.

Seseorang dapat menerima pesan suara yang terdengar seperti anggota keluarga meminta uang. Video tokoh terkenal dapat dibuat seolah menawarkan investasi. Wajah seseorang dapat ditempelkan ke materi lain untuk membuat informasi palsu.

Pelajar perlu mengetahui bahwa bukti berupa suara atau video kini tidak selalu dapat langsung dipercaya.

Apabila terdapat permintaan uang atau informasi pribadi yang tidak biasa, pemeriksaan sebaiknya dilakukan melalui saluran lain. Menghubungi orang tersebut melalui nomor yang sudah dikenal dapat membantu memastikan apakah permintaan memang benar.

Periksa Sebelum Membagikan Konten

Kebiasaan membagikan materi hanya karena menarik menjadi salah satu jalur utama penyebaran informasi palsu.

Konten yang membuat marah, takut, atau terkejut sering mendorong pengguna menekan tombol kirim sebelum melakukan pemeriksaan.

Komdigi pada Agustus 2026 meminta pelajar menjadi bagian dalam pembentukan ruang digital yang aman. Salah satu pesannya adalah memeriksa informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Pemerintah juga mengingatkan meningkatnya hoaks, penipuan digital, dan manipulasi berbasis AI yang semakin sulit dikenali.

Pelajar dapat menggunakan beberapa langkah sederhana sebelum menyebarkan materi:

  1. Cari sumber pertama informasi.
  2. Periksa tanggal dan lokasi.
  3. Bandingkan dengan sumber resmi.
  4. Jangan mengandalkan satu tangkapan layar.
  5. Berhenti sejenak apabila isi dibuat untuk memancing emosi kuat.

Kebiasaan tersebut tidak membutuhkan perangkat khusus. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk tidak langsung menjadi bagian dari rantai penyebaran.

Foto AI Semakin Sulit Dibedakan dengan Foto Asli

Pada generasi awal pembuat gambar AI, kesalahan relatif mudah ditemukan. Jari tangan dapat berjumlah tidak wajar, tulisan terlihat berantakan, atau bentuk wajah mempunyai bagian yang aneh.

Kemampuan teknologi terus meningkat.

Sekarang kesalahan visual dapat semakin kecil. Foto dapat memiliki pencahayaan, tekstur kulit, latar, dan ekspresi yang terlihat realistis.

Karena itu, metode mengenali gambar palsu hanya berdasarkan keanehan visual tidak lagi cukup.

UNESCO menilai perkembangan deepfake membuat pendidikan perlu bergerak lebih jauh daripada sekadar mengajarkan teknik deteksi. Pelajar juga perlu memahami bagaimana pengetahuan dibentuk serta bagaimana menilai kebenaran ketika materi sintetis semakin mudah dibuat.

Artinya, siswa perlu memeriksa sumber sebuah foto, bukan hanya fotonya.

Foto yang berasal dari akun anonim tanpa keterangan dapat diperlakukan berbeda dari dokumentasi yang memiliki sumber jelas.

Sekolah Menjadi Tempat Penting untuk Literasi AI

Kegiatan Polresta Sumenep di MAN Sumenep menunjukkan sekolah mempunyai posisi penting dalam pendidikan teknologi.

Pelajar menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pendidikan. Di sana mereka dapat belajar menggunakan AI dalam situasi yang terarah dan mendapat penjelasan ketika menemukan sesuatu yang membingungkan.

Guru juga dapat membantu siswa memahami batas penggunaan.

Misalnya, AI dapat digunakan untuk menghasilkan ide awal, tetapi siswa tetap harus menuliskan analisis menggunakan pemahamannya sendiri. Aturan seperti ini membuat teknologi tidak perlu dilarang sepenuhnya.

Komdigi pada Mei 2026 juga menekankan guru dan orang tua perlu aktif mendampingi anak karena informasi palsu, penipuan digital, serta materi buatan AI semakin sulit dikenali.

Pendampingan bukan berarti setiap aktivitas digital anak harus diawasi setiap saat. Tujuannya memberi kemampuan agar mereka mampu mengambil keputusan sendiri ketika orang dewasa tidak berada di sampingnya.

Orang Tua Perlu Mengenal Teknologi yang Digunakan Anak

Tanggung jawab literasi AI tidak dapat diberikan hanya kepada sekolah dan polisi.

Orang tua juga perlu mengetahui aplikasi yang digunakan anak. Mereka tidak harus menjadi ahli pemrograman, tetapi setidaknya memahami bahwa layanan AI dapat menghasilkan teks, gambar, audio, dan video yang tidak selalu benar.

Percakapan di rumah dapat dimulai dari kejadian sederhana.

Apabila anak menunjukkan video viral, orang tua dapat mengajak memeriksa sumber. Jika anak menggunakan AI untuk tugas sekolah, orang tua dapat bertanya bagian mana yang dibuat sendiri dan bagian mana yang dibantu mesin.

Pendekatan seperti ini membuat teknologi menjadi bahan diskusi, bukan sesuatu yang otomatis dianggap berbahaya.

Komdigi menilai pendampingan orang tua dan guru semakin penting karena anak telah menjadi pengguna berbagai platform digital sejak usia muda.

Identitas Pribadi Jangan Sembarangan Dimasukkan ke AI

Literasi AI juga menyentuh persoalan data pribadi.

Siswa dapat tergoda memasukkan seluruh informasi ke sebuah layanan karena ingin mendapatkan jawaban yang lebih spesifik. Padahal, data pribadi seperti nomor identitas, alamat rumah, nomor rekening, kata sandi, dokumen sekolah, atau informasi keluarga tidak seharusnya dibagikan sembarangan.

Hal yang sama berlaku untuk foto teman.

Menggunakan wajah seseorang untuk membuat gambar atau video AI tanpa izin dapat menimbulkan persoalan serius. Materi dapat menyebar keluar dari kelompok awal dan sulit dihapus sepenuhnya.

Komdigi telah memperingatkan penyalahgunaan deepfake dapat digunakan dalam tindak kejahatan siber dan pembuatan materi palsu.

Karena itu, pendidikan mengenai AI perlu berjalan bersama pemahaman mengenai privasi dan persetujuan.

Satbinmas dan Satlantas Ikut Turun ke Sekolah

Kegiatan di MAN Sumenep melibatkan beberapa unsur Polresta Sumenep.

Hadir antara lain Ps KBO Satlantas Polresta Sumenep Ipda Nova Apriyanto, Ps Kasubnit Bintibsos Satbinmas Bripka Nurmalita, anggota Bagian SDM, Satbinmas, Satlantas, Kasubnit Kamsel, serta pihak sekolah.

Keterlibatan beberapa satuan menunjukkan edukasi digital mulai ditempatkan sebagai bagian dari pendekatan kepolisian kepada pelajar.

Selama ini kegiatan polisi di sekolah sering dikaitkan dengan tertib lalu lintas, kenakalan remaja, narkoba, atau perundungan. Kehadiran AI menambahkan persoalan baru yang juga memerlukan pemahaman sejak usia sekolah.

Polresta Sumenep menyatakan personel gabungan akan menyasar pelajar melalui kegiatan edukasi mengenai kecerdasan buatan.

Pelajar Bisa Menjadi Penyebar Klarifikasi

Posisi pelajar tidak harus selalu dilihat sebagai kelompok yang berisiko menjadi korban informasi palsu.

Mereka juga dapat berperan sebagai orang yang membantu menghentikan penyebaran.

Ketika menemukan informasi yang terbukti keliru dalam grup kelas, siswa dapat memberikan sumber yang benar. Ketika teman ingin membagikan video yang belum jelas, mereka dapat mengingatkan untuk memeriksa terlebih dahulu.

Cara semacam ini lebih efektif apabila dilakukan tanpa mempermalukan orang yang sudah telanjur percaya.

Tujuan literasi digital bukan memenangkan perdebatan, tetapi membantu kelompok mendapatkan informasi lebih akurat.

“Generasi muda yang memahami cara kerja AI dapat menjadi kelompok penting dalam melawan hoaks karena mereka berada sangat dekat dengan teknologi sekaligus aktif dalam arus penyebaran informasi.”

Teknologi Harus Tetap Membantu Kemampuan Manusia

Ipda Nova Apriyanto dalam kegiatan di Sumenep menekankan siswa perlu memanfaatkan AI untuk kegiatan belajar dan peningkatan kreativitas. Pesan tersebut membuat posisi teknologi menjadi lebih jelas. AI tidak diperlakukan sebagai musuh, tetapi juga tidak boleh digunakan tanpa batas.

Siswa tetap membutuhkan kemampuan menulis, berhitung, menganalisis, berbicara, dan menyampaikan pendapat.

AI dapat mempercepat beberapa proses, tetapi pengguna perlu mengetahui mengapa sebuah jawaban dianggap benar.

Kemampuan semacam ini menjadi semakin penting ketika mesin dapat menghasilkan jawaban yang terlihat sangat rapi.

Pelajar yang memahami materinya dapat mengenali ketika AI membuat kesalahan. Sebaliknya, siswa yang hanya menyalin akan lebih sulit membedakan jawaban benar dan salah.

Edukasi Tidak Cukup Dilakukan Sekali

Kegiatan terhadap 140 siswa menjadi salah satu langkah pengenalan, tetapi perkembangan AI berlangsung sangat cepat.

Fitur yang tersedia bulan ini dapat berubah beberapa bulan kemudian. Modus penipuan juga mengikuti kemampuan teknologi yang baru.

Karena itu, materi literasi digital perlu diperbarui secara berkala.

Sekolah dapat memasukkan pembahasan verifikasi informasi ke berbagai mata pelajaran. Guru bahasa dapat membahas kualitas sumber. Pelajaran informatika dapat menjelaskan cara kerja sistem AI. Pendidikan kewarganegaraan dapat membahas tanggung jawab ketika berkomunikasi di ruang digital.

Polisi dan lembaga pemerintah kemudian dapat memberikan pembaruan mengenai jenis kejahatan yang sedang banyak ditemukan.

Pendekatan berulang membuat siswa tidak hanya mengingat satu kegiatan sosialisasi, tetapi membangun kebiasaan yang digunakan setiap kali menghadapi informasi baru.

Siswa Perlu Berani Mengakui Tidak Tahu

Salah satu kemampuan yang jarang dibicarakan dalam literasi digital adalah keberanian mengatakan sebuah informasi belum dapat dipastikan.

Media sosial sering mendorong pengguna memberikan komentar dengan cepat. Padahal, tidak semua berita harus langsung disikapi.

Ketika sumber belum jelas, pilihan yang lebih aman adalah menunggu.

Kemampuan tersebut penting ketika berhadapan dengan video AI yang sangat meyakinkan. Hanya karena sebuah konten sulit dibuktikan palsu bukan berarti otomatis benar.

Literasi digital yang baik memberi ruang untuk ketidakpastian.

Siswa dapat mencari sumber tambahan, bertanya kepada guru, memeriksa situs lembaga resmi, atau menunggu klarifikasi.

Kebiasaan tersebut sesuai dengan pesan utama Polresta Sumenep agar pelajar memahami teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Sebanyak 140 siswa yang mengikuti sosialisasi di MAN Sumenep menjadi kelompok awal yang diharapkan tidak sekadar mahir menggunakan AI, tetapi juga mampu menentukan kapan teknologi dapat dipercaya, kapan harus diperiksa, dan kapan sebuah informasi lebih baik tidak ikut disebarkan.