Kerajaan Sriwijaya

Diposting pada

Pada kesempatan kali ini pengajar.co.id akan membuat artikel mengenai Kerajaan Sriwijaya, yuk disimak ulasannya dibawah ini : Kerajaan Sriwijaya


Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Menurut beberapa sumber sejarah kerajaan sriwijaya :

  • Menurut Berita Arab

Konon pedagang Arab melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya, bahkan di sekitar Sriwijaya ada peninggalan besar yang mungkin merupakan bekas desa orang Arab.

  • Menurut Berita India

Konon, setelah Kerajaan Sriwijaya menjalin kerjasama dengan berbagai kerajaan di India, seperti Colamandala dan Nalanda bahkan kerajaan Nalanda membangun sebuah prasasti yang bercerita tentang Sriwijaya.

  • Dari Berita Cina

Itu dikabarkan bahwa pedagang Cina sering tinggal di Kerajaan Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke India dan Arab. Berita dari Cina juga melaporkan bahwa pada abad ke-7 ada beberapa kerajaan yang terletak di Sumatra, termasuk kerajaan tulang bawang, di Sumatera Selatan, Melayu di Jambi, dan Sriwijaya. Keberadaan kerajaan Sriwijaya dapat diperoleh melalui informasi, misalnya, dari pendeta Buddha Tiongkok, I-Tsing.

Telah diriwayatkan bahwa I-Tsing kembali ke Kerajaan Sriwijaya pada tahun 685 dan kemudian menetap di sana selama 4 tahun dengan tujuan untuk menerjemahkan berbagai tulisan Buddhis dari bahasa Sangsekerta ke Cina. Karena ia sebenarnya tidak mampu menyelesaikan pekerjaan itu sendiri, ia pergi ke Kanton pada 689 untuk mencari pembantu dan segera kembali ke Sriwijaya. Selain itu, hanya di 696, I-Tsing kembali ke Cina.


Raja dan Silsilah Kerajaan Sriwijaya

Berikut dibawah ini merupakan Raja-Raja dari Kerajaan Sriwijaya :

  • Raja Daputra Hyang

Raja Daputra Hyang adalah salah satu raja Sriwijaya yang mampu membuat kerajaan itu melebarkan sayapnya. Raja ini bahkan berusaha untuk mengubah Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim. Pada masa pemerintahannya, ia mampu meluaskan kekuasaan Sriwijaya ke Jambi.

Kisah raja Daputra Hyang dapat ditemukan pada prasasti bukit kedua (683M). Selama masa pemerintahan ini, raja Daputra Hyang tentu saja memiliki pengaruh yang besar.

  • Raja Dharmasetu

Pada masa pemerintahan Raja Dharmasetu, Kerajaan Sriwijaya meluas sampai ke Semenanjung Malaya. Inilah yang membuat satu kerajaan ini membangun basis di wilayah Ligor. Beberapa pencapaian dicapai oleh raja Dharmasetu sebagai sukses dalam menjalin hubungan dengan negara Cina dan India.

Dengan kerjasama tersebut, ia berhasil untuk selalu menghentikan Cina dan India dengan berlayar di wilayah Sriwijaya. Inilah yang membuat kerajaan lebih diuntungkan dari aktivitas perdagangan yang mereka lakukan.

  • Raja Balaputra Dewa

Raja Balaputra dewa adalah raja yang dapat menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan terbesar pada masa itu. Raja yang satu ini bertugas pada abad ke-9. Cerita oleh raja Balaputra Dewa sendiri berasal dari sebuah prasasti yang disebut prasasti Nalanda.

Karena kebesaran kepemimpinan raja Balaputra dewa Sendirila yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan dengan pusat Agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, ia mampu memiliki kerjasama yang sangat baik dengan berbagai kerajaan di India, seperti Kerajaan Cola dan Nalanda.

Balaputra dewa adalah keturunan dari Dinasti Syailendra, putra raja Samaratungga dan Dewi Tara dari Kerajaan Sriwijaya. Karena prestasi dan kehebatannya dalam masa pemerintahan, raja Balaputra dewa sebagai raja yang membawa Sriwijaya untuk kejayaannya.

  • Raja Sri Sudamaniwarmadewa

Pada masa pemerintahan Raja Sri Sudamaniwarmadewa, Kerajaan Sriwijaya diserang oleh raja Darmawangsa, yang berasal dari Jawa Timur. Namun, serangan yang diluncurkan dapat digagalkan oleh tentara Sriwijaya.

  • Raja Sanggrama Wijayattunggawarman

Pada masa pemerintahan Raja Sanggrama, Sriwijaya di serangan oleh kerajaan Chola yang dipimpin Raja Rajendra Chola. Berbeda dengan serangan yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Sri Sudamaniwarmadewa. Rupanya, pasukan Sriwijaya tidak dapat mengalahkan serangan oleh Kerajaan Chola.

Lihat Juga:   Pengertian Arbitrase

Inilah yang membuat Raja Sanggrama kemudian ditangkap. Pada masa pemerintahan Raja Kulotungga I dari Kerajaan Chola, raja Sanggrama Wijayattunggawarman kemudian dibebaskan.


Letak Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim yang berdiri di sisi timur pulau Sumatera di abad ke-7 hingga abad ke-12 M. Kerajaan ini berpusat di wilayah Palembang saat ini.

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan penting pada masa itu. Pemerintah memainkan peranan penting dalam perdagangan antara India dan Cina karena lokasi Sriwijaya di Selat Malaka, yang pada saat itu menjadi rute perdagangan yang penting.

Pedagang dari Cina atau India akan berhenti untuk berdagang di laut banyak di Sriwijaya untuk perdagangan, sambil mengantisipasi angin muson tropis.

Sebagai hasil dari banyak pedagang ini, Sriwijaya merupakan kerajaan yang maju dan kaya. Sriwijaya juga memperluas wilayahnya melalui laut. Pada masa jayanya, Sriwijaya melakukan beberapa ekspedisi untuk menaklukkan dan memperluas kekuasaan di daerah tetangganya seperti Tulangbawang (Lampung), Tarumanegara (Jawa Barat) dan Medang (Jawa Tengah).

Peninggalan Kerajaan ini meliputi kompleks arkeologi bukit Seguntang, kompleks Candi Muara Takus, dan komplek candi Muaro Jambi. Peninggalan ini menunjukkan peranan penting Sriwijaya sebagai pusat agama Buddha di Asia Tenggara pada saat itu.

Peran Sriwijaya sebagai pusat pengembangan Buddha juga dimasukkan ke dalam bagian dari China Yijing (I Ching) yang mengunjungi ibukota Sriwijaya. Yijing mengunjungi Sriwijaya pada 673 dalam perjalanannya ke Nalanda University di India, sebuah pusat pembelajaran Buddha. Yijing menetap di Sriwijaya untuk waktu yang lama untuk belajar bahasa dan agama sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.


Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Berikut dibawah ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya :

  • Candi Muara Takus

Candi Muara Takus adalah salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Lokasi Candi Muara Takus terletak di distrik XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Candi ini merupakan satu-satunya Candi dengan pola Buddha di Riau, dengan beberapa bangunan yang terdiri dari Candi tertua, Candi termuda, stupa Mahligai, dan Palangka. Kuil ini telah dinyatakan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO sejak 2009.

  • Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi dibangun sekitar abad ke-11 dan terletak di distrik Maro SEBO, Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi tepat di tepi Sungai Batang hari. Muaro Jambi juga merupakan Pura dengan kawasan terluas di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara, dengan luas total 3981 hektar. Pada 2009, wihara Muaro Jambi juga ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

  • Candi Biaro Bahal

Selanjutnya peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya adalah candi Biaro Bahal. Terletak di desa Bahal, Kecamatan Padang bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, Propinsi Sumatera Utara. Kuil ini dibangun pada abad ke-11 dengan struktur bata merah. Kompleks Candi terdiri dari beberapa candi yang sering disebut Candi Bahal I, Candi Bahal II dan seterusnya.

  • Candi kota kapur

Candi ini adalah candi yang indah dari Kerajaan Sriwijaya, yang terkait erat dengan prasasti kota kapur. Candi ini dibangun dengan tujuan untuk mencegah gangguan dari kapal bajak laut melewati daerah yang sering diserang.

  • Gapura Sriwijaya

Gerbang Sriwijaya merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dalam bentuk lengkungan. Lokasi gerbang ini berada di rimba Hamlet, Kecamatan dempo tengah, kota pagar alam, Sumatera Selatan dan terdiri dari 9 bagian dari gapura. Gapura Sriwijaya ini sekarang karena adanya gempa, erosi dan gejala alami lainnya, namun keberadaannya tetap diingat oleh penduduk setempat.

  • Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota kapur terletak di bagian barat Pulau Bangka, yang ditulis menggunakan aksara Melayu dan Pallawa kuno. Prasasti ini ditemukan di 686 m, isi prasasti ini berisi tentang harapan rakyat Kerajaan Sriwijaya.

  • Prasasti Ligor

Prasasti Ligor menjadi salah satu prasasti peninggalan Sriwijaya. Penemuan prasasti Ligor terletak di Nakhon Si Thammarat, wilayah selatan Thailand. Prasasti Ligor ditemukan di 775 M. Prasasti ini memiliki dua sisi, yang dinamai dari sisi A dan sisi B.

  • Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah dapat ditemui di desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Prasasti tersebut menggunakan bahasa Malaysia kuno dan Aksara Pallawa terdiri dari 13 baris kalimat. Prasasti ini berasal dari abad ke-7 dan berisi kutukan terhadap orang yang tidak tunduk pada kekuasaan Sriwijaya.

  • Prasasti Hujung Langit

Prasasti hujung langit juga termasuk peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Lokasi prasasti ini di desa Haur kuning, Propinsi Lampung. Bahasa yang digunakan adalah Melayu kuno dan aksara Pallawa. Isi prasasti hujung langit adalah tentang pemberian sebuah tanah Sima, yang diperkirakan berasal dari 997 TM.

  • Prasasti Telaga batu

Prasasti Telaga batu ditemukan di sekitar kolam Telaga biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Isi prasasti Telaga batu adalah tentang kutukan bagi mereka yang melakukan kejahatan di Sriwijaya.  Di sekitar lokasi penemuan prasasti Telaga batu juga ditemukan prasasti Telaga batu 2 yang menceritakan tentang adanya sebuah vihara.

  • Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti prasasti Kedukan Bukit dapat ditemukan di kota Palembang, yang merupakan ibukota kerajaan Sriwijaya. Prasasti itu ditemukan sekitar 683 MASEHI dan bercerita tentang Dapunta Hyang yang berhasil membuat rakyat menjadi makmur. Raja Dapunta Hyang sendiri dikenal sebagai raja yang ramah dan mencintai rakyatnya yang makmur pada saat itu.

  • Prasasti Talang Tuwo

Kerajaan Sriwijaya berikutnya ialah prasasti Talang Tuwo. Penemuan prasasti ini dapat ditemukan di kaki bukit Seguntang di sekitar tepi utara Sungai Musi. Adapun isi prasasti Talang Tuwo adalah doa pendedikasian dan menunjukan perkembangan agama Buddha di Sriwijaya pada waktu itu.

  • Prasasti Leiden

Prasasti Leiden adalah sisa dari Sriwijaya yang ditulis dalam sansakerta dan Tamil. Isi prasasti Leiden ini menceritakan hubungan baik antara Dinasti Chola Tamil dengan dinasti Sailendra dari Sriwijaya, India Selatan.

  • Prasasti Amoghapasha

Prasasti amoghapasha merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di daerah Jambi. Diperkirakan bahwa prasasti ini ada sejak 1286 M. Isi prasasti Amoghapasha menyebutkan Penyerahan hadiah yang diberikan oleh raja Kartanegara kepada raja Suwarnabhumi.

  • Prasasti Bukit Siguntang

Prasasti bukit Siguntang adalah sisa dari Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di kompleks pemakaman raja Sriwijaya. Isi prasasti di bukit Siguntang menceritakan perkelahian yang memakan banyak korban. Karena lokasinya, banyak objek sejarah lainnya ditemukan, bersama dengan Prasasti ini.

  • Prasasti Karang Birahi

Prasasti karnag birahi dapat ditemukan di daerah karang, Propinsi Jambi. Prasasti ini sendiri telah ada sejak tahun 868 MASEHI. Isi prasasti batu birahi memuat doa kepada para dewa dari rakyat Sriwijaya untuk menghukum orang dalam kelakuan jahat.

Lihat Juga:   Pengertian Bahasa

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Pada pertengahan abad ke-19, Kerajaan Sriwijaya membuat gempar seantero jagat raya. Dimana masa kejayaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya mampu mengendalikan perdagangan dunia, yang sangat sulit bagi kerajaan dimasa itu untuk dicapai.

Bangsa ini berhasil tunduk di bawah pemerintahan Kerajaan Sriwijaya, mulai dari Vietnam, Kamboja, Filipina, Thailand, dan negara Asia Tenggara lainnya. Sriwijaya telah mengembangkan perdagangan garis laut yang sangat baik sekali. Strategi perdagangan modern, sehingga mampu bersaing bagi para pelaku perdagangan dunia.

Masa kejayaan kerajaan Sriwijaya berlangsung sampai abad ke-10. Berlangsung hanya satu abad, tetapi untuk 100 tahun.

Uang terus dikumpulakn dari hasil dagang melalui rute laut. Rakyatnya dituntun untuk menjadi pedagang yang berhasil. Tidak hanya itu, pemerintah juga mendapatkan penghasilan dari Jasa Penyewaan dermaga dan juga dari kebiasaan pedagang asing yang merupakan wilayah Kerajaan.


Raja Terkenal Kerajaan Sriwijaya

Raja Kerajaan Sriwijaya yang terkenal adalah raja Balaputradewa.

Raja Balaputradewa adalah putra raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dengan Dewi Tara dari Sriwijaya. Balaputradewa memerintah Kerajaan Sriwijaya pada 9 Abd-M. Selama masa pemerintahannya, Buddha berkembang pesat.

Balaputradewa menjalin hubungan baik dengan Benggala yang diperintah oleh raja Dewapala. Raja Dewapala memberikan hadiah sebidang tanah ke Balaputradewa untuk mendirikan sebuah asrama untuk siswa dan siswa belajar di Nalanda, India.

Raja lain yang terkenal adalah :

  1. Dapunta Hyang, disebut juga dalam prasasti prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo. Dapunta Hyang memerintah Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 dan melakukan banyak usaha perluasan daerah.
  2. Raja yang lain adalah Sri Sudamaniwarmadewa (990 m). Pada masa pemerintahan Raja Darmawangsa, Jawa Timur, ia digagalkan.
  3. Raja Marawijayottunggawarman, yang membangun hubungan dengan raja Rajaraya I dari Colamandala.
Lihat Juga:   OPEC

Sistem Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya

Sistem pemerintahan Sriwijaya berbentukan dimana pengalihan kekuasaan didasarkan pada keturunan. Sriwijaya, menurut pengamat sejarah, disebut sebagai kerajaan nasional pertama di Nusantara mengingat luas wilayahnya yang tunduk pada kekuasaannya.

Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim, armada Angkatan Laut mereka kemudian dikenal sebagai salah satu yang terbaik. Sriwijaya dapat dikatakan, bagaimanapun, bahwa itu adalah Metropolis, karena masih tergantung pada tradisi diplomasi. Karena lokasinya yang strategis, Sriwijaya tumbuh pesat di bidang pelayaran dan perdagangan.

Sejumlah prasasti Kerajaan Sriwijaya menyebutkan bahwa kerajaan ini memperluas wilayahnya melalui ekspansi militer. Para birokrat berkaitan dengan pelaksanaan aturan yang berbeda untuk memastikan ketertiban domestik dan tenang dalam negeri. Beberapa prasasti juga berisi informasi tentang penguasa lokal yang tunduk pada Sriwijaya tidak diberi kebebasan otoritas.

Sistem pemerintahan Sriwijaya mengubah mereka menjadi kerajaan maritim yang besar dengan wilayah yang luas. Pengaruh Sriwijaya juga dikenal sebagai cukup kuat, tidak hanya pada kerajaan tetangga, tetapi juga dengan kerajaan yang jauh di Cina, India dan Vietnam.

Sistem pemerintahan ini tidak hanya berdampak besar di masa lalu, tetapi sejauh ini. Keberhasilan pemerintah Sriwijaya menyatukan banyak wilayah di Nusantara untuk menjadi semangat persatuan dan kesatuan Indonesia. Sriwijaya juga menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam mengembangkan diri sebagai poros Maritim dunia.


Kehidupan Politik Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan yang besar dan terkenal. Selain mendapatkan julukan sebagai kerajaan nasional, Sriwijaya juga mendapat julukan kerajaan maritim karena armada perkapalnya yang kuat. Raja terkenal adalah Dapunta Hyang (pendiri Sriwijaya) Balaputradewa, dan Sanggrama Wijayatunggawarman. Ekspansi ini dilakukan dengan cara mengendalikan tulang bawang (Lampung), Kedah, Jambi, Pulau Bangka, Tanah genting kra dan Jawa (kaling dan Mataram kuno).

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncaknya di era Balaputra dewa. Raja ini memiliki hubungan persahabatan dengan raja Dewapala dewa India. Dalam prasasti Nalanda disebutkan bahwa raja Dewapala diberi sebidang tanah untuk mendirikan sebuah biara untuk pendeta Sriwijaya yang belajar agama Buddha di India.


Masa Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Perubahan dalam faktor geografis, faktor ini adalah perubahan lokasi Kerajaan Sriwijaya. Perubahan ini terkait erat dengan endapan Lumpur Sungai Musi yang mengakibatkan ibukota kerajaan Sriwijaya sangat bergeser sehingga tidak lagi dekat dengan pantai. Akibatnya, ibukota kerajaan Sriwijaya kurang diminati oleh para pedagang asing.

Sangat lemah kontrol pemerintah pusat, begitu banyak wilayah Kerajaan yang mencoba untuk melarikan diri kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

Memulai pengembangan pasukan politik baru dari Jawa dan India. Kerajaan Sriwijaya mulai melancarkan serangan dari Raja Rajendracola dari Colamandala pada 1017 dan 1025. Pada 1025, serangan itu diulang sehingga raja Kerajaan Sriwijaya dapat ditaklukkan, Sri Sanggramawijayattunggawarman akhirnya ditangkap oleh pemerintah Kolamandala. Tahun 1275, Raja Kertanegara dari Singosari mengambil tindakan Explocation Pamalayu.

Hal Inilah yang mengarah ke wilayah melayu akhirnya lepas meskipun kekuatan kerajaan Sriwijaya. Dan akhir dari Kerajaan Sriwijaya terjadi ketika armada laut Majapahit yang telah diserang jauh lebih kuat dan menghancurkan armada Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1377.


Pada kesempatan kali ini pengajar.co.id akan membuat artikel mengenai Kerajaan Sriwijaya, yuk disimak ulasannya dibawah ini :